Orang Tua Emir
Menjelang siang ada bunyi helikopter terbang rendah di areal sekolah. Untunglah SMA kami luas, ada lapangan sepak bolanya. Helikopter itu turun di sana. Pahamilah, namanya orang desa melihat helikopter datang, selain kaget, heran, kagum, juga takut. Takutnya itu dari dinas militer yang mencari penyelundup. Kadang terlalu lebay pikiran orang-orang. Dengan gerakan lambat, helikopter mendarat, menampilkan manusia gagah superganteng dari dalamnya, disusul perempuan supercantik mengekor. Disusul dari arah jalan iringan kendaraan Pajero menjemput mereka. Semua takjub.
Mereka menuju sekolah, mengenalkan diri sebagai orang tua Emir, menanyakan kronologi kejadian, kemudian dengan panik berusaha menghubungi HP-nya, bahkan sebagian langsung melajukan kendaraan dengan tujuan menyusuri tempat di mana ada sinyal Emir. Hingga sore menjelang, belum membuahkan hasil. Sementara aku, tiba-tiba ada pesan masuk yang berbunyi “Tolong aku!” dari drakula itu.
