Studi Tiru Para Widyaiswara Bangka Belitung
“Kita juga melihat potensi lain yang sebenarnya dapat dikembangkan bila memang serius. Misalnya ada potensi besar mengembangkan pariwisata di desa atau memperkuat konsep desa wisata di Pulau Lepar,” ujar Faisal yang terlihat sangat bersemangat setiap melakukan kegiatan studi tiru tersebut.
Faisal selain sebagai widyaiswara juga telah mengembangkan keterampilan barunya sebagai seorang penulis. Ia baru saja menjalin kontrak dengan sebuah penerbit buku di Pulau Jawa. Karena itu dalam kesempatan tertentu ia juga melakukan semacam acara bedah buku yang ditulisnya. Berbagai sekolah dan Yayasan Pendidikan telah menjadi tempat acara bedah buku yang ditulisnya yang dibantu oleh para widyaiswara lainnya.
Sambil melakukan kunjungan ke desa tersebut para widyaiswara juga mencoba melakukan semacam pemantauan kepada para PNS yang telah mengikuti berbagai program Pendidikan dan pelatihan di lembaga diklat yang selama ini mereka terlibat. “Dalam kegiatan ini juga kami para widyaiswara sekaligus mengembangkan semacam kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap para peserta diklat. Kami mendiskusikan hal-hal yang diperoleh peserta ketika mengikuti diklat serta persoalan-persoalan apa yang dihadapi peserta di lapangan,” Jelas Abdul Sani seorang widyaiswara yang fasih berbahasa Arab dan sering diminta menjadi imam, khotib dan penceramah agama ketika sedang ke lapangan.
Karena itu dalam kegiatan studi tiru tersebut para widyaiswara juga meninjau berbagai fasilitas publik yang ada di kecamatan dan desa. Itu artiya mereka juga mengunjungi sekolah, puskesmas, kantor kecamatan atau kantor kelurahan.
“Kami puas Ketika melihat para PNS peserta diklat yang terlihat antusias bekerja melayani masyarakat dengan berbagai kondisi lapangan yang dihadapi. Saya bertemu dengan beberapa orang guru di sekolah dasar bimbingan saya misalnya. Mereka ini tahun lalu telah ikut kegiatan Latihan Dasar atau latsar yang diperuntukan bagi para calon pegawai negeri sipil atau CPNS. Senang melihat mereka sudah percaya diri dan semangat mendampingi anak-anak didiknya. Terkadang kita juga terharu mendengar para PNS muda ini bercerita tentang persoalan-persoalan yang mereka hadapi namun dengan berbagai cara berhasil mereka atasi,” tambah Sani yang pernah bermukim di Arab Saudi selama beberapa tahun sebelum menjadi widyaiswara.
Kegembiraan yang sama juga dirasakan oleh widyaiswara lainnya manakala melakukan kegiatan APWI yang bersifat luar ruang tersebut. Seperti yang disampaikan Saudah, widyaiswara madya yang tahun depan akan mengakhiri masa tugasnya.
“Sangat senang bertemu dengan PNS yang masih muda-muda yang tadinya menjadi peserta pelatian dan mereka telah menerapkan hal-hal yang diperoleh di dalam diklat-diklat dimana kami ikut mendampingi mereka di kelas. Puas rasaya bila mendengar kisah pengalaman keberhasian mereka yang terus mencoba mencari inovasi-inovasi baru dalam bekerja dan mengatasi masalah yang dihadapi, ” jelas Saudah yang sudah mulai mempersiapkan kegiatannya bila telah purna tugas kelak.
Ia merencanakan meneruskan mengelola kebun dan menjadi wirausaha. Sebagai mantan pegawai di dinas koperasi yang punya pengalaman mendampingi masyarakat selama ini ia memang berniat mengembangkan dengan lebih baik lagi usaha sampingan yang telah dilakoninya selama ini.
Ketika ditanyakan mengenai sumber pendanaan berbagai kegiatan yang dilakukan para widyaiswara ini, Ketua APWI Babel, Yan Megawandi sambal tersenyum menjelaskan bahwa mereka mendapatkan sponsor dari mandiri. “Bukan Bank Mandiri lho, tetapi kami mengumpulkan uang pribadi secara mandiri. Karena memang semua pembiayaan kami lakukan dengan uang iuran dan patungan para anggota. Walaupun kami juga terkadang ikut melaksanakan tugas monitoring dan evaluasi hasil diklat,” katanya sambal tertawa lebar. Karena itu sekarang mereka menggelari kelompok kami ini sebagai kelompok APWI Mandiri.
