Revolusi Pembelajaran: Memahami Peran Manajemen Perubahan dalam Pendidikan di Bangka Belitung
Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan di Babel, implementasi manajemen perubahan dapat diterapkan dalam penyesuaian kurikulum yang lebih mengedepankan pembentukan karakter dan pola pikir siswa. Apalagi di Babel, siswa harus lebih ditanamankan sikap kedewasaan dalam belajar, di mana tujuan sekolah bukan hanya untuk dapat bekerja, mendapatkan uang, dan menjadi kaya, tetapi juga untuk membentuk individu yang berkarakter, bertanggung jawab, dan berguna bagi individu lainnya, serta lingkungan. Khusus di Babel, siswa juga perlu ditanamkan sikap mencintai lingkungan, karena bagaimanapun juga, aktivitas pertambangan timah yang menjadi magnet ekonomi bagi seluruh kalangan usia, harus mampu dikontrol agar tidak menjadi penyumbang angka putus sekolah.
Dari sisi metode dan praktik pengajaran, perlu juga ada penyesuaian dan pemanfaatan teknologi terkini, agar aktivitas belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan. Bagaimanapun juga, salah satu alasan utama, dari rendahnya minat bersekolah, adalah karena aktivitas pembelajaran yang cenderung berulang dan dianggap membosankan. Selain itu, jangan ada lagi proses pembelajaran yang bersifat satu arah dari guru ke murid, tetapi harus lebih dibuka ruang diskusi, agar guru juga menjadi lebih paham dengan kondisi dan karakter siswa yang tentu saling berbeda latar belakang.
Pada akhirnya, dibutuhkan komunikasi yang baik antara guru dan wali murid, karena bagaimanapun juga, pendidikan itu sebenarnya bukan hanya di dalam sekolah, tapi juga meliputi pendidikan diluar sekolah yang membutuhkan kontrol dari orang tua ataupun wali murid. Diharapkan sinergi antara guru dan wali murid akan menyempurnakan kondisi pendidikan di Babel yang saat ini masih memiliki banyak kekurangan.
Harapan ke Depan
Peluang Babel untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikannya dan memangkas angka putus sekolah, tentu masih sangat besar. Jika para tenaga pendidik bertanggung jawab akan kualitas kademik dan karakter para siswa, maka para pemangku kebijakan bertanggung jawab terhadap kualitas kesejahteraan para tenaga pendidik. Meski tantangan ini cukup berat, namun dengan regulasi yang disusun melalui sinergi diantara seluruh stakeholder, tentu kondisi ini dapat di atasi.
Para pemimpin di tingkat daerah pada akhirnya tentu harus menyampingkan ego-ego sektoral, karena pada prinsipnya, pendidikan adalah pondasi dalam membangun sebuah bangsa. Bahkan bapak proklamator kita, Presiden pertama Ir. Soekarno pernah menyatakan bahwa pendidikan cermin kehidupan sebuah bangsa. Artinya, bagaimana sebuah bangsa bisa dikatakan “hidup” jika sektor pendidikannya masih belum diperhatikan. Semoga dengan regulasi yang konsisten, resisten, dan jangka panjang, mampu membuat dunia pendidikan semakin baik di masa mendatang. Amin.
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung dan Tenaga kependidikan Bagian SDM Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
