Logo Kementerian Kebudayaan RI Mirip Jambul Nanas?
“Intinya itu pengakuan dan pernyataan M.H. Vourt observatif bahwa orang Bangka Selatan punya KARAKTER (khusus) dan PENAMPILAN yang tak sama (bahkan tak terkait) dengan orang” Bangka di belahan utara (Belinyu, Jebus).
Orang Bangka Selatan lebih gigih, ulet, rukun, lebih cerdas & cakap bicara. Sangat mungkin karena perpaduan (intermixture) bisa berarti asimilasi atau juga genetika) dari beragam lapisan masyarakat Melayu.
Kalau menurutku pribadi, masyarakat Bangka Selatan lebih ‘kuat’ justru karena kondisi geografis jaman dulu.
Tanah yang lebih tandus dan kering, luas dan hanya sedikit populasi-nya (hingga juga dipilih jadi daerah transmigrasi), membuat mereka harus survive dan jadi kreatif.
Mas Willy, panggilan akrab budayawan Serumpun Sebalal itu lalu melanjutkan dengan menulis narasi Selamat Terus Berjuang, Seperadik “Habang”.
Soal karakteristik masyarakat, yang ditulis Dato Akhmad Elvian dalam bukunya itu sungguh menarik.
Sayang hingga perbincangan itu selesai dengan ucapan terima kasih untuk Mas Willy yang telah menerjemahkan cuplikan dari buku karya Dato’ Akhmad Elvian ini, budayawan Negeri Junjung Behaoh Datuk Kulul tidak hadir untuk memberikan pencerahan tentang karakteristik orang Bangka Selatan.
“Beliau lagi pendampingan penelitian Cadas di Bukit Batu Kepale. Alhamdulillah, semoga beliau sehat terus.
Luar biasa, kami yang muda merasa minder ke beliau yang begitu gigih dan kuat menanjak bukit yang cukup terjal, semua dilangkahi dengan mudah begitu saja, nampaknya kami yang muda harus banyak lagi menimba ilmu,” jelas Dwiki Dhaswara lewat WhatsApp.
Ngomong-ngomong, apa yang ada dalam pikiran pembaca tentang Jambul Nanas?
