Revitalisasi Panti Wangka Menjadi Museum Sejarah dan Budaya di Bangka Belitung
Panti Wangka sekarang yang ada di kawasan Taman Sari Pangkalpinang (dulunya: Societeit Concordia nama bahasa: Belanda) telah didirikan A.J.N Ebgelenberg, Residen Bangka yang memerintah tahun 1913-1918. Societeit Concordia tersebut saat itu merupakan tempat hiburan, berkumpul bersama dan tempat makan-makan para perwira tinggi Belanda.
Meskipun di Pangkalpinang telah ada Museum Timah Indonesia, tidak ada salahnya ada alternatif pilihan museum sejarah dan budaya melayu Bangka Belitung di ibukota provinsi. Museum sejarah/museum budaya tersebut merupakan bentuk penguatan Bangka Belitung sebagai daerah yang kuat dari aspek sejarah dan memiliki karakteristik budaya kemelayuan di dalamnya.
Secara ekonomi, ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita Pangkalpinang Emas (2025-2045) dan secara umum Bangka Belitung dalam menggapai quality tourism. Apalagi dukungan di wilayah sekitar Panti Wangka dekat juga dengan kawasan Taman Sari dan Taman Merdeka, tentunya ini menjadi alternatif kunjungan wisatawan mengenal sejarah dan budaya Bangka Belitung secara keseluruhan.
Quality tourism yang dicita-citakan tersebut, salah satunya mewujudkan alternatif kunjungan wisatawan ke tempat bersejarah salah satunya museum sejarah tersebut. Apalagi dukungan Kawasan sekitar yang mengandung sejarah perjuangan bangsa di dalamnya, tentunya ini menjadi ketertarikan sendiri bagi wisatawan.
Untuk itu perlu dipikirkan penataan kawasan di sekitar areal tersebut sebagai kawasan sejarah dan kawasan budaya yang beberapa telah ada dukungan tempat bersejarah di sekitar Panti Wangka tersebut.
Program revitalisasi Panti Wangka menjadi museum sejarah dan budaya di Bangka Belitung tentunya juga mendukung salah satu Program Nomor 17 Asta Cita yaitu: “Pelestarian budaya, ekonomi kreatif, dan prestasi olahraga: Penyediaan dana abadi kebudayaan dan dukungan prestasi olahraga”.
Dalam mewujudkan program revitalisasi tersebut, tentunya harus didukung seluruh unsur baik dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Bangka Belitung dan unsur legislasi dari Bangka Belitung baik DPR RI, DPD RI, DPRD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Kehadiran museum sejarah dan budaya Bangka Belitung diharapkan menjadi “jendela” bagi para wisatawan melihat informasi sejarah dan budaya tersebut. Dengan demikian, museum menjadi ruang khusus tempat kita dapat memahami dan memaknai dunia.
Museum sejarah dan budaya ini merupakan salah satu opsi dari implementasi program yang real dalam mewujudkan quality tourism di Pangkalpinang Khususnya dan Bangka Belitung serta Indonesia secara umum.
Penulis yakin jika program seperti revitalisasi Panti Wangka menjadi museum sejarah merupakan program positif dan berkelanjutan.
Jika positif dan berkelanjutan, maka stakeholder dan masyarakat tentunya program seperti revitalisasi ini akan mendapatkan dukungan penuh, apalagi memiliki dampak positif bagi peningkatan PAD kota Pangkalpinang dan menggerakkan perekonomian masyarakat pada masa yang akan datang.
Penulis merupakan akademisi di Universitas Bangka Belitung
