Jabatan, Antara Kebahagiaan dan Kesengsaraan
Bila hal ini terjadi, kita sebagai rakyat akan menonton kemungkaran kolosal yang dibangun oleh sosok pemegang amanah dan orang yang mengemban amanah. Asesoris kemuliaan diri nan semu yang dipakai tak akan mampu menutup aib yang menganga.
Rasulullah pernah menasihati Abdurrahman bin Samurah.
Kata Nabi, “Wahai Abdurrahman bin Samurah janganlah engkau kasak-kusuk mencari jabatan karena bila engkau memperoleh jabatan tanpa kasak-kusuk engkau akan dibantu Tuhan. Allah akan menurunkan malaikat mendukung langkahmu. Tetapi jika kamu diberi jabatan karena meminta atau kasak-kusuk maka beban jabatan itu diserahkan sepenuhnya kepadamu untuk memikulnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Tidak lama setelah dilantik menjadi pemimpin umat, Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu menyampaikan pidato pertamanya.
“Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik di antara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku.”
Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pun tidak terlihat gembira. Apalagi mengadakan pesta saat menerima amanah jabatan.
Sudah saatnya kita tidak menghambakan diri kepada jabatan. Meminta-minta amanah kepada pemberi amanah. Biarlah pemimpin yang menilainya.
Sudah bukan zamannya lagi mencari jabatan dengan lobi-lobi dan pendekatan yang tidak diiringi dengan kapasitas diri dan prestasi yang dihasilkan yang justru merusak dan menodai pemimpin yang memberikan amanah.
Memalukan pemimpin yang mengamanahkan jabatan karena ketidakmampuan kita dalam menjalankan amanah yang diberikan.
Pada sisi lain, banyak pula orang yang memiliki jabatan saat purna tugas dicintai publik dan bawahannya karena tidak pernah memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Jabatan yang diembannya digunakan untuk kepentingan publik dan khalayak ramai.
Namun banyak pula orang saat tidak memiliki jabatan diacuhkan publik. Bahkan saat purna tugas, dicuekin warga dan mantan bawahannya. Bahkan tragisnya jadi pesakitan karena saat memegang jabatan justru memanfaatkan jabatannya untuk dirinya pribadi dan menyusahkan orang banyak, tak terkecuali bawahannya.
Terlepas apa pun, pilihan selalu ada pada diri kita sendiri . Semoga di tahun 2025 ini, kita bisa berkaca atas diri masing-masing. Bisa introspeksi diri.
Sesungguhnya hidup kita antara azan dan azan. Kita hanya sedang menunggu antara azan tersebut.
Rusmin Sopian, penulis yang tinggal di Toboali
