Berkat Orang Ini, Peter dan Debora Berhasil Napak Tilas Perang Dunia II ke Mentok
Mulai dari Museum Perdamaian Kota Mentok di Kelurahan Keranggan berikut sumur bekas kamp tawanan perang. Monumen penghargaan di Tanjung Kalian dari Pemerintah Australia untuk 67 perawat mereka yang jadi korban pembunuhan Jepang pada 1942.
Serta komplek menara suar yang mana di lepas pantai ada 11 perawat gugur karena kapal SS Vyner Broke dibom Jepang. Tak hanya itu, Peter dan Debira juga sempat mendatangi Pantai Radji, tak jauh dari Tanjung Kalian yang jadi lokasi pembantaian 20 perawat.
Pasanggrahan Menumbing serta BTW dan Museum Timah Mentok juga telah didatangi Peter dan Debora, ditemani Paksu Jumbo. Banyak lokasi sejarah berikut ceritanya yang keduanya dapat selama berada di Mentok sembari menyantap bakso dan otak-otak.
“Jadi bibi saya itu pada tahun 1942 dari Singapura melakukan perjalanan ke Australia. Pada pelayaran disetop oleh Jepang di Selat Bangka dan ditahan di kamp tahanan di Mentok. Dari Mentok dikirim ke Palembang dan dikirim ke Kelurahan Menjelang, Mentok,” ujarnya.
Setelah itu, bibinya kembali dikirim lagi ke Lubuklinggau sebagai tawanan perang. Pasca perang dunia dua, sang bibi pulang ke Skotlandia dan beberapa waktu berselang kembali ke Singapura untuk bekerja. Tetapi suaminya ditahan di Penjara Changi, Singapura.
“Jadi tawanan perang (suami bibi saya) pada saat itu. Selama berada di sini, kami mencintai Mentok, masyarakat sangat bersahabat, menyenangkan, sangat suka membantu, dan orangnya ramah suka tersenyum,” kata Peter sembari menyeruput es tehnya.
“Kami suka Mentok karena kota kecil dan semua orang kenal Paksu Jumbo. Kemudian Mentok adalah kota kecil yang santai dan tidak sibuk seperti kota besar Jakarta, tidak bisa melihat sunset dan jalan santai, sementara di sini bisa,” ungkap Peter.
Pada 16 Februari 2025 mendatang, di Mentok, akan ada kegiatan tapak tilas korban perang dunia kedua. Agenda tahunan ini biasanya diikuti sejumlah keluarga korban Perang Dunia II dari berbagai negara biasanya akan memeringati tragedi kemanusiaan itu.
Kata Peter, ia tidak akan berpikir untuk datang dalam agenda yang diikuti keluarga keturunan korban perang itu. Namun, suatu saat atau di lain waktu, Peter Douglas mengaku akan kembali mendatangi Kota Mentok. Baik dalam rangka tapak tilas atau sekadar liburan.
Sementara, Setiawan atau yang akrab disapa Paksu Jumbo mengatakan dunia ini dipenuhi orang baik. Jika kau tak menemukannya jadilah salah satu darinya. Seperti yang dilansir di dalam unggahan media sosial Facebook (FB) miliknya, Paksu Jumbo Setiawan.
“Berawal dari perkenalan di Pelabuhan Kijang (Kab Bintan) dalam perjalan Kijang – Belinyu. Dengan modal Bahasa Inggris yang hanya yes, no and thank you ditambah sedikit semangat bertaipau (sombong) akhirnya jadi kawan,” tulis Setiawan.
Ia menambahkan, dari obrolan di sepanjang pelayaran Kijang ke Belinyu didapat informasi bahwa tujuan mereka ke Bangka ialah Kota Mentok. Maksud dari kunjungan mereka ialah dalam rangka napak tilas perjalanan keluarga mereka yang menjadi korban Perang Dunia II di bulan Februari 1942.
“Oh ya nama mereka berdua adalah Peter and Debora yang berasal dari Inggris dan Australia. Peter yang asli orang Inggris adalah merupakan fans Newcastle United (info ini paksu dapat hanya dengan ilmu kelakar betok),” lanjut Setiawan.
Mendapat informasi tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka dan mengingat tidak ada satupun kenalan mereka di Mentok tentu semangat kerelawanan Paksu tersentuh. Segera Paksu carikan kendaraan buat mereka setiba di Belinyu menuju Mentok.
Dan paksu arahkan mereka untuk menginap di Yasmin Hotel karena berada di pusat kota Mentok. Dan keesokan harinya takdir mempertemukan kami di dekat Lokomobil ketika mereka hendak berkunjung ke Museum.
“Selanjutnya sebagai sahabat Paksu menawarkan diri untuk mengantarkan mereka ke tempat-tempat bersejarah lainnya yang terkait dengan tragedi tersebut,” tutup Setiawan dalam unggahan dengan menampilkan foto anaknya bersama Peter dan Debora saat berada di Kedai Kopi Tiam Mentok.
