Oleh: Rusmin Sopian

Penulis terdiam. Menatap ruangan pertemuan di salah satu Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Selatan, Selasa ( 14/1/2025).

Saat itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Bangka Selatan Sumadi memaparkan tingkat kegemaran membaca Bangka Selatan tahun 2024 dalam kategori sedang dikonversi dalam angka sekitar 62 poin.

Adu argumentasi pun terjadi dalam rapat Pengurus Daerah Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Bangka Selatan menyikapi angka tingkat kegemaran membaca tadi, sekaligus sebagai evaluasi untuk tahun 2025.

Pada sisi lain, jumlah artikel yang ditulis para penulis dari Bangka Selatan hampir setiap hari memenuhi rubrik opini di berbagai macam media massa lokal dan media luar Bangka Belitung.

Baca Juga  Pendidikan Karakter: Ajarkan Nilai dan Etika Melalui Pembelajaran IPS di SMP Negeri 1 Labang

Demikian pula dengan jumlah buku yang diterbitkan para penulis buku Bangka Selatan jumlahnya selalu meningkat setiap tahunnya.

Dalam catatan penulis, beberapa buku yang dilahirkan para penulis dari Bangka Selatan tahun 2024, di antaranya Novel Cinta di Bawah Tudung Saji karya dari Toni Pratama.

Lalu ada buku fiksi dari Kepala Sekolah SMKN 1 Tukak Sadai, Sutiono yang berjudul Hikmah Tersembunyi di Setiap Petualangan yang diterbitkan Galuh Patria Jogjakarta.

Penyair sekaligus Pemantun Toboali Yul Haidir tidak ketinggalan pula dalam melahirkan buku yang berisikan pantun yang diberi judul Kumpulan Pantun Diri.

Menyusul buku dari birokrat penulis Hendrawan dengan judul Fenomena Perilaku Organisasi Pemerintah.

Kehadiran buku-buku dari penulis Bangka Selatan ini tentunya sebuah prestasi dalam mengeskalasi nama daerah ini dalam rimba perbukuan nasional.

Baca Juga  23 Tahun Bangka Belitung: Eksploitasi SDA dan Perebutan Ruang Hidup

Pertanyaannya kenapa tingkat kegemaran membaca Bangka Selatan masih dalam kategori sedang?

Apakah jumlah buku yang lahir tidak linier dengan tingkat kegemaran membaca?