Hingga suatu saat, terjadilah bencana besar menimpa sebagian daerah Kerajaan Inang. Banjir rob dari atas bukit menggulung abis sawah petani dan hujan yang terus berminggu-minggu menyebabkan gagal panen.

Stok makanan juga makin menipis di lumbung rakyat, karena adanya titah raja untuk mengambil paksa hasil panen dan stok di lumbung padi rakyat.

Hari demi hari berlalu, sang raja juga makin tak tergugah kesadarannya walaupun ada musibah tersebut. Sehingga memuncak emosi rakyat, anarkisme tak terelakan. Lumbung-lumbung istana yang penuh makanan, mulai dirampas rakyat. Kolaborasi dengan orang dalam istana, pembantu kerajaan yang selama ini tersingkir oleh Raja Angkal.

Pihak yang kecewa dari pembantu istana, mulai melakukan aksi diam dan senyap. Mereka mulai memberikan ruang gerak bagi rakyat karena melihat keprihatinan rakyat. Kelaparan terjadi di mana-mana, penyakit mulai terasa di masyarakat. Busung lapar, gizi buruk melanda bayi dan anak-anak.

Baca Juga  Aksara di Pangkuan Waktu

Inilah yang mendorong para pembantu istana yang selama ini kurang diperhatikan raja, melakukan aksi dengan ‘menggerogoti’ dari dalam istana.

Sang raja kembali memanggil Litotes “sang sutradara” untuk menyelidiki kejadian yang menimpa istana. Tapi, karena kurang daya nalar yang sehat, Litotes menjadi bingung dan linglung mencari akar masalah penyakit dalam mahligai kerajaan. Wajar selama ini Litotes hanya sosok sutradara hiburan saja.

Akhirnya puncak suksesi tercapai, para pembantu istana yang tergeser mendapatkan dukungan dari luar kerajaan. Tahta raja pun dapat direbut. Raja Angkal dan Litotes “sang sutradara” serta beberapa pengikut seperti hilang ditelan bumi.

Dan menjadi misteri yang tidak terjawab sampai Raja Pekerti menggantikan Raja Angkal. Desas-desus beredar sebagian ditahan sampai menderita sakit bahkan beberapa terbujur kaku di sel tahanan termasuk Litotes “sang sutradara” dan Raja Angkal.

Baca Juga  Putri Kulong Bakung

Malam di teras mahligai Selindung Baru, 11-01-2025, 20.28 Wib.