Karya: Hendraone Habang

Layar ponsel itu menyala, memancarkan cahaya kebiruan yang menusuk retina. Notifikasi demi notifikasi bergulir seperti derasnya hujan di musim penghujan. Ping! Seorang teman mengomentari foto semalam. Ping! Selebgram favoritnya baru mengunggah tutorial makeup.

Ping! Berita viral tentang perkelahian di pasar tradisional. Ping! Ping! Ping! Ratusan suara kecil itu menari-nari di genggaman tangan Nara, memaksa jemarinya menari cepat untuk membalas, menyukai, atau sekadar menggeser ke kanan. Sejak kapan hidupnya dikendalikan oleh benda persegi seberat 200 gram ini?

Udara pagi di kompleks perumahan itu seharusnya segar. Tapi yang terhirup oleh Nara hanyalah debu digital yang tak kasat mata. Di teras rumahnya, sambil setengah duduk di kursi kayu usang, matanya tak pernah lepas dari layar.

Ibunya melintas sambil membawa cucian, berdecak pelan. “Sarapan, Nak!” serunya untuk ketiga kalinya. Nara mengangguk tanpa arti, jempolnya masih asyik mengetik komentar pedas di bawah unggahan kontroversial seorang politisi.

Di sekolah, ruang kelas XII IPS 2 lebih mirip kuburan yang dihuni zombie. Jari-jari lentik siswa menari di atas layar, sementara Bu Tari, guru sosiologi, berbicara tentang teori konstruksi sosial. Suaranya tenggelam dalam gemuruh notifikasi.

Baca Juga  Di Balik Lubang Besar

“Kalian tahu dampak media sosial terhadap polarisasi masyarakat?” tanyanya retoris. Seorang siswa mengangkat tangan, tapi bukan untuk menjawab. “Bu, boleh pinjam charger? Batere saya 1%.” Tawa kecut menggema, lalu mati seketika. Semua kembali ke dunia mereka sendiri.

Di sudut ruang guru, Pak Andi, wali kelas XII IPS 2, mengelus dahinya yang mulai berkerut. Laporan hasil ujian tengah semester menunjukkan grafik merah menukik. “Mereka bisa menghafal ribuan meme, tapi tak sanggup mengingat rumus dasar ekonomi,” gerutnya pada Bu Tari yang sedang asyik mengunggah foto nasi kotak ke Instagram PahlawanTanpaTandaJasa.

Malam itu, Nara terjaga di kamarnya. Cahaya ponsel memantul di dinding yang dipenuhi poster influencer gaming. Live TikTok berjam-jam, tawa palsu, giveaway semu.

Di grup WhatsApp keluarga, ayahnya mengirim pesan panjang tentang acara pengajian bulanan. Tapi percakapan sebenarnya terjadi di grup lain—“Curhat Bareng Sahabat Online”—dimana Nara dan 500 anggota lain saling membagikan kegalauan akan likes yang tak kunjung bertambah.

Baca Juga  Kala Waktu Menulis Panggilannya (1)

“Kamu nggak sendiri,” tulis seorang anonim bernama @brokenheart_23. Nara tersenyum getir. Di dunia nyata, tetangganya—anak baru pindahan—telah tiga kali mengajaknya main basket. Tapi untuk apa? Followers-nya di Instagram takkan bertambah dengan melempar bola ke ring.

Di kantor desain grafis tempat kakak Nara bekerja, rapat penting terancam bubar. “Branding harus eye-catching! Lebih banyak emoji! Lebih banyak hashtag!” teriak klien sambil menunjuk layar laptop.

Kakak Nara menggigit bibir. Desain minimalis yang ia susun selama seminggu dicampakkan demi gambar neon dengan tulisan “BURUAN KLIK!!!”. Di sudut ruangan, sekretaris muda mengedit foto makanan siangnya dengan filter vintage, mengaburkan noda saus toples di pinggir piring.

Masjid Al-Ikhlas di ujung jalan tak luput. Saat khutbah Jumat tentang bahaya ghibah, puluhan ponsel merekam ceramah untuk diunggah ke YouTube. Beberapa jemaah menyelinap ke aplikasi e-commerce, membandingkan harga sarung. “Demi Allah, hati yang lalai…” suara khatib menggema, tapi perhatian terpecah antara ayat suci dan diskon 70% di Shopee.

Lambat laun, karat itu menggerogoti

Baca Juga  Untuk yang Ingin Mengingat

Di rumah Nara, meja makan tak lagi dipenuhi obrolan. Masing-masing anggota keluarga sibuk dengan layar sendiri. Adik bungsunya, usia 8 tahun, sudah mahir mengutuk di kolom komentar game online. “Biarin kata Mama, yang penting subscriberku naik!” katanya suatu sore, ketika ibunya memarahinya karena tak mengerjakan PR.

Di sekolah, Bu Tari menemukan plagiarisme masif saat tugas esai tentang kemiskinan. “Ini copy-paste dari blog!” serunya marah. Tapi murid-murid hanya mengangkat bahu. “Kan tinggal spin words, Bu. Nggak bakal ketahuan AI detector,” jawab salah seorang dengan bangga.

Di masyarakat, adu domba digital merajalela. Seorang ibu muda dicaci karena foto anaknya dianggap kurang islami. Sebaliknya, video seorang pria menyantap 10 burger dalam 5 menit dipuja-puja. “Viral itu rezeki,” bisik mereka. Nilai-nilai dikubur di bawah tagar.