Puncaknya terjadi di suatu senja

Nara tersandung saat berjalan sambil live streaming, lengannya retak. Tapi yang ia risaukan bukan rasa sakit—melapaulah kamera ponselnya yang pecah. Di ruang gawat darurat, sambil menunggu gips, ia meratap: “Gimana nih kontenku besok?”

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam setahun, ia mematikan ponsel. Sunyi yang aneh menyergap. Tanpa sadar, air mata menetes. Di luar jendela, bulan purnama bersinar—tapi tak ada yang mengunggahnya ke Instagram.

Keesokan pagi, Nara mencoba bertahan. Ia sarapan dengan keluarga, benar-benar sarapan, bukan sekadar foto untuk Story. Tapi tangannya gatal. Otaknya seperti ditarik magnet ke arah kamar. “Cuma cek notif sebentar,” bisiknya.

Tiga jam kemudian, ia terjebak lagi : debat kusir di Twitter tentang isu yang bahkan tak ia pahami. Kata-kata kasar mengalir deras dari jemarinya. Di dunia nyata, kucing peliharaan menggesek tubuhnya yang kaku, meminta makan.

Baca Juga  Farida Binti Romadi

Di balik semua itu, karat terus bekerja

Generasi yang seharusnya kritis, terpenjara dalam algoritma. Mereka bisa mengutip teori filsuf Barat, tapi tak mampu membaca jerit hati orang tua. Mereka hapal tutorial coding, tapi tak mengerti cara memperbaiki genteng bocor. Moralitas direduksi menjadi jumlah likes. Empati diukur lewat donasi yang di-screenshot.

Ketika banjir bandang melanda desa tetangga, relawan datang sambil vlogging. “Bantu sesama itu indah,” kata mereka ke kamera, sambil menyelipkan link donasi di bio. Tapi tak ada yang bertahan setelah baterai power bank habis.

Di suatu subuh, Nara terbangun dengan keringat dingin. Mimpi buruk : tangannya berubah menjadi besi berkarat, menjalar ke jantung. Ia membuka aplikasi meditasi, mencari penenang. Tapi iklan judi online muncul tiba-tiba. “Menang mudah! Cuma di sini!”

Baca Juga  Guwo Benteng Toboali

Ia memandang cermin. Lingkaran hitam di bawah mata. Postur bungkuk. Senyum palsu yang sudah melekat permanen. Di genggamannya, ponsel bergetar lagi—notifikasi dari aplikasi kencan : “Ada 10 orang yang menyukaimu!”

Tapi di seberang jalan, tetangga barunya sedang menyiram bunga. Lelaki itu melambai, mata jernih tanpa beban layar. Nara ingin menyapa, tapi… Ping! Sebuah reminder muncul : “Waktunya posting MorningVibe!”

Layar kembali menyala. Karat menggerogoti lebih dalam

Di ujung kota, seorang nenek menjual kue tradisional di gerobak kayu. Tanpa GoFood, tanpa promo di TikTok. Pembeli datang karena aroma harum, bukan algoritma. “Ini warisan ibu saya,” katanya pada seorang anak kecil yang membayar dengan uang logam. Transaksi itu tak tercatat di cloud, tapi terukir di memori.

Baca Juga  Pengelabuan

Angin berhembus, membawa debu digital yang semakin pekat. Di suatu tempat, ada yang mulai sadar. Di tempat lain, mereka tetap terhipnotis sorot layar—sampai kata-kata tak lagi punya makna, sampai kemanusiaan menjadi data yang bisa di-scroll lalu dilupakan.

Dan karat itu tetap bekerja, dalam senyap, di bawah tengkorak yang dianggap modern.

#BrainRot

#PembusukanOtak