Kutukan Prasasti Kota Kapur
3. “Bilamana di pedalaman semua daerah yang berada di bawah Kadātuan ini akan ada orang yang memberontak yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak”
4. “yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu; biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk biar sebuah ekspedisi untuk melawannya seketika di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Śrīwijaya, dan biar mereka”
5. “dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti mengganggu:ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja,”
6. “saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang”
7. “supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut”
8. “mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya”
9. “dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebasan dari bencana, kelimpahan segalanya untuk semua negeri ! Tahun Śaka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha. Pada saat itulah-”
10. “kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara berangkat untuk menyerang bhūmi jāwa yang tidak berbakti”
Bulin merasakan setiap isi sumpah kutukan seolah berbicara, menggambarkan kondisi kehidupan masyarakat pada zaman itu.
Kisah selanjutnya kembali lagi ke kota kapur, yaitu di rumah salah penduduk tempat Bulin menginap di sana.
Pada malam selepas Isya, saat Bulin sedang beristirahat sambil minum kopi, yang kebetulan pula malam itu bertepatan malam bulan purnama, tiba-tiba Ia merasakan fenomena yang aneh. Seolah Bulin melihat diorama zaman lampau kembali hidup.
Entah khayalannya, atau deja vu, Ia melihat sosok-sosok para raja dan rakyat yang sibuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Mereka berbelanja di pasar, berdiskusi tentang politik, serta merayakan festival dengan tarian dan musik.
Setelah selesai merasakan fenomena tersebut, dan tersadar kembali, rasa haru begitu kuat menyelimuti hati Bulin saat ia menyaksikan jejak sejarah budaya yang telah ada sejak berabad-abad lalu. Ia semakin menyadari bahwa prasasti ini bukan hanya sebuah batu bertuliskan huruf, tetapi adalah ikatan emosi dan kenangan yang harus diabadikan.
Keesokan harinya, Bulin memutuskan untuk berkomunikasi dengan para tokoh penduduk setempat. Ia mulai mengajak mereka untuk menceritakan cerita nenek moyang mereka yang berkaitan dengan Kota Kapur.
Dengan semangat yang sama, beberapa tokoh masyarakat bercerita tentang keberadaan situs Kota Kapur termasuk lagu daerah, contoh jampi-jampi (mantra) lama, dan tarian tradisional. Bulin begitu terinspirasi, bertekad untuk menuliskan dari kunjungannya tersebut dalam sebuah cerpen, sebagai upaya sederhana dalam melestarikan budaya yang hampir terlupakan.
Akhirnya Bulin mulai menulis untuk pembuatan buku sederhananya tentang kumpulan tulisan sastra kepulauan Wangka (Vanca) salah satu isinya adalah cerpen tentang prasasti Kota Kapur, sebagai kecintaan pada negeri Serumpun Sebalai. Menurut Bulin prasasti yang dahulu terlupakan kini harus menjadi perhatian bersama, mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan warisan budaya.
Situs Kota Kapur harus menjadi tempat edukasi sejarah bagi generasi sekarang, dapat menginspirasi mereka untuk terus belajar dan menggali sejarah. Bulin berharap banyak masyarakat kembali peduli budaya mereka. Prasasti yang dulunya hanya sebuah tugu, kini menjadi simbol kebesaran, dan kekuasaan pada waktu itu. Untuk digali sebagai pengetahuan, dan kecintaan terhadap sejarah.
Seiring berjalannya waktu, Bulin menyadari bahwa setiap batu termasuk candi yang terkubur di situs Kota Kapur menyimpan sejuta cerita. Prasasti itu bukan hanya tulisan dari masa lalu, tetapi perjalanan peradaban dulu sampai sekarang. Rantai Jejak sejarah Situs Kota Kapur tidak akan, atau janganlah pudar, karena peradaban sekarang dari masa lalu.
