Oleh: Heri Suheri, CIJ., CPW., CA-HNR., CFLS.

Di Kepulauan Bangka Belitung ternamalah Kota Kapur. Di sana tersimpan misteri segudang kisah peradaban dari masa silam. Di Kota Kapur inilah, telah tertancap hujam prasasti sumpah kutukan dari Sri Jayanasa, yang dipagari oleh benteng tanah bertuah. Tempat di mana ditemukannya prasasti tua  yang menunjukkan jejak peninggalan kerajaan terbesar maritim Nusantara.

Suatu hari, seorang penulis bernama Bulin datang ke Kota Kapur. Ia sangat tertarik mendengar cerita tentang prasasti yang konon ditulis pada abad ke-7 masehi. Berbekal sedikit pengetahuan dan rasa ingin tahunya, Bulin mencari tahu tentang makna di balik tulisan sansekerta kuno tersebut.

Sebelum berkunjung ke Kota Kapur Ia menghabiskan waktu berhari-hari  untuk mempelajari detail-detail kecil melalui blog literatur sejarah, dan salah satunya di Museum Nasional (Museum Gajah) Jakarta, sampai ia melihat langsung simbol-simbol pada prasasti asli Kota Kapur.

Baca Juga  Kesah dalam Senyap yang Terpaksa

Sementara kesimpulan Bulin terhadap Literatur yang didapat dari kunjungan ke museum nasional yaitu, “Prasasti ini adalah bukti kuat adanya jejak sejarah kebesaran kerajaan maritim yang pernah jaya di Nusantara,” yaitu kerajaan Sriwijaya.

Ia memperhatikan goresan-goresan pahatan huruf yang tertulis di prasasti Kota Kapur dalam bahasa Sanskerta, Sri Jayanasa (Dapunta Hyang) memberikan kutukan dengan alih aksara prasasti ini sebagai berikut:

1. “Siddha titam hamba nvari i avai kandra kayet ni paihumpaan namuha ulu lavan tandrun luah makamatai tandrun luah vinunu paihumpaan hakairum muah kayet ni humpa unai tunai

2. “Umentern bhakti ni ulun haraki. unai tunai kita savanakta devata mahardika sannidhana. manraksa yan kadatuan çrivijaya. kita tuvi tandrun luah vanakta devata mulana yan parsumpahan

Baca Juga  Senyum Takbercerita

3. “paravis. kadadhi yan uran didalanna bhami paravis hanun. Samavuddhi lavan drohaka, manujari drohaka, niujari drohaka talu din drohaka. tida ya

4. “Marppadah tida ya bhakti. tida yan tatvarjjawa diy aku. dngan diiyan nigalarku sanyasa datua. dhava vuathana uran inan nivunuh ya sumpah nisuruh tapik ya mulan parvvanda datu çriwi-”

5. “jaya. Talu muah ya dnan gotrasantanana. tathapi savankna yan vuatna jahat. makalanit uran. makasuit. makagila. mantra gada visaprayoga. udu tuwa. tamval-”

6. “Sarambat. kasihan. vacikarana.ityevamadi. janan muah ya sidha. pulan ka iya muah yan dosana vuatna jahat inan tathapi nivunuh yan sumpah talu muah ya mulam yam manu-”

7. “Ruh marjjahati. yan vatu nipratishta ini tuvi nivunuh ya sumpah talu, muah ya mulan. saranbhana uran drohaka tida bhakti tatvarjjava diy aku, dhava vua-”

8. “tna niwunuh ya sumpah ini gran kadachi iya bhakti tatvjjava diy aku. dngan di yam nigalarku sanyasa dattua. çanti muah kavuatana. dngan gotrasantanana.”

Baca Juga  Berdamai dengan Insecure

9. “Samrddha svasthi niroga nirupadrava subhiksa muah vanuana paravis chakravarsatita 608 din pratipada çuklapaksa vulan vaichaka. tatkalana”

10. “Yan manman sumpah ini. nipahat di velana yan vala çrivijaya kalivat manapik yan bhumi java tida bhakti ka çrivijaya

Artinya:

1. “Keberhasilan ! (disertai mantra persumpahan yang tidak dipahami artinya)”

2. “Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan melindungi Kadātuan Śrīwijaya ini; kamu sekalian dewa-dewa yang mengawali permulaan segala sumpah!”