“Atau teman-teman yang lain melihat sekolah lain ngasih uang lebih besar, jadi malu atau tidak enak ngasih nominal sedikit, benar-benar kami merasa dirugikan dan akan kami lawan, ini jelas modus operandi pemerasan,” tuturnya.

Ia berharap, pihak Polres Bangka Tengah bisa mengatasi permasalahan ini. Pathoni juga berterima kasih kepada Polsek Koba yang sigap dan bergerak cepat.

“Saya belum jadi korban, karena saya pelajari dulu konteksnya, yang ngasih Rp200.000 malah ditulis Rp900.000, timbul pertanyaan apa tujuannya, jelas ini pemerasan, takutnya jika dibiarkan, akan muncul korban lainnya dan mohon untuk diproses,” ucapnya.

Sementara itu, Aiptu. Doni selaku Kanit Reskrim Polsek Koba membenarkan adanya 2 orang pria yang mengaku wartawan dengan modus datang ke sekolah ingin sosialisasi dan meminta bantuan berupa uang sudah diamankan.

Baca Juga  Selamat! Panahan Senior Bangka Tengah Juara Umum 1 Kejurprov Babel 2025

“Benar, kami sudah amankan 2 orang yang mengaku wartawan dan mau melakukan sosialisasi, tapi meminta uang operasional peliputan dan saat ini 2 orang tersebut sudah kami serahkan ke Polres Bangka Tengah,” pungkasnya.

Terpisah, 2 oknum wartawan yang bernama DO dan HA mengaku mereka memang wartawan dari Sumbagsel.

Uang yang diminta adalah untuk bantuan operasional untuk tugas peliputan ke kekolah-sekolah dan kades.

“Iya, kami wartawan daerah Sumbagsel, cuma mau sosialisasi tentang kawasan asap rokok dan juga nanya tentang dana bos. Memang, kami meminta bantuan biaya ke sekolah-sekolah untuk operasional kami meliput,” jawab DO.