Karya: Rusmin Sopian

Ketika reformasi menggema di tanah air, anak-anak muda kampung kami dengan suara lantang meneriakkan perlunya pemekaran daerah.

Dalam berbagai kesempatan, waktu dan ruang, anak-anak muda yang berasal dari berbagai disiplin ilmu itu secara kontinyu meneriakkan, menggemakan dan mensosialisasikan keinginan memiliki daerah otonomi yang berdiri sendiri.

Sosialisasi dan publikasi terus menerus dinyanyikan terutama lewat koran lokal yang mulai mengisi hari-hari denyut kehidupan masyarakat daerah ini.

Malam itu di sebuah gedung tua peninggalan masa kolonial Belanda, anak-anak muda itu berkumpul.

Sinar rembulan memancarkan sinarnya yang indah dan benderang ke dalam nurani anak-anak muda ini.

“Saya berharap, kawan-kawan semua satu tekad dan satu hati. kabupaten kita harus terbentuk, apapun risikonya. Hanya dengan menjadi daerah otonom, masyarakat daerah ini akan sejahtera,” kata salah seorang tokoh pemuda bernama Markudut.

“Apalagi potensi daerah kita ini sangat luar biasa. Berbagai data dari instansi terkait dan survei-survei telah membuktikan fakta bahwa daerah ini sangat layak dan pantas menjadi sebuah daerah otonom,” lanjut Markudut menyemangati kawan-kawannya.

Anak-anak muda yang berkumpul pun terdiam. Retorika Markudut membakar semangat dan nurani mereka untuk memperjuangkan daerah ini menjadi daerah otonom baru.

Baca Juga  Jeritan Kalbu di Rimba Fana

Teriakan lantang tentang pembentukan Kabupaten Baru yang dikobarkan Markudut dan kawan-kawan bukannya tak menuai aral rintangan.

Banyak yang mencibir bahkan menganggap tekad itu hanyalah angan-angan dan mimpi di siang bolong.
Ibarat pungguk merindukan bulan.

Kendati tak kentara, beberapa anak-anak muda daerah ini amat menentang rencana pembentukan daerah otonom baru yang disuarakan Markudut dan kawan-kawannya.

“Aku heran melihat Markudut dan kawan-kawan. Getol amat memperjuangkan daerah ini sebagai Kabupaten Baru. Apa Markudut mau menjadi Bupati atau anggota dewan?,” tanya Rendra dalam suatu pertemuan dengan beberapa anak-anak muda yang kontra terhadap perjuangan pembentukan daerah otonom sebagaimana yang diperjuangkan Markudut dan kawan-kawannya.

“Sangat tepat apa yang kamu omongkan itu kawan. Mereka kalau daerah ini terbentuk kabupaten pasti jadi OKB. Orang Kaya Baru. Mereka kan pahlawannya. Mereka bisa bermain proyek. Main tender,” sela teman Rendra.

Siang telah berganti malam. Rembulan mulai memancarkan sinarnya. Cahaya matahari menerangi bumi.

Markudut baru saja keluar dari mobil yang ditumpanginya bersama kawan-kawan seperjuangan pembentukan daerah otonom usai pulang dari Kabupaten Induk.

Belum sempat mengetuk pintu rumah, terdengar ocehan istrinya dari dalam rumah kontrakannya.

Baca Juga  Nun (10): Batas yang Berbatas

“Jam macem nih, ayah ikak lum pulang. Tiap hari gawe e cuma ngurus orang bae. Dak tau anak bini di rumah makan ape dak. Entah ayah model apa ayah ikak tuh. Cuma hebat di depan orang-orang besar bae. Kalau di koran omongannya macem pejabat besar bae. Dak tau perut anak bini di rumah kembang kempis,” omel istri Markudut bahasa daerahnya.

Dengan semangat siap menerima omelan sang istri, Markudut mengetuk pintu rumah kontrakannya. Pintu rumah terbuka. Tampak wajah istrinya memerah. Memendam kekesalan.

“Budak-budak lah tiduk, Mak?” tanya Markudut kepada istrinya.

“Kalau nunggu abang pulang, mereka baru tiduk, pacak-pacak besok dak sekolah,” sahut istrinya dengan nada ketus.

Markudut menikmati kopi yang baru saja dihidangkan istrinya. Asap rokoknya membumbung tinggi, seakan ingin menembus angkasa biru.

Setinggi cita-cita dan harapan Markudut untuk ikut berjuang bersama kawan-kawannya menghantarkan daerah ini menjadi sebuah Kabupaten Baru, demi sebuah kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat daerah ini.

*

Dua puluh tahun tak terasa waktu telah berlalu. Negeri yang diperjuangkan Markudut dan kawan-kawan mulai menggeliat bak gadis muda nan rupawan.

Pembangunan gedung kantor pemerintah mulai menghiasi pelosok negeri itu. Mobil-mobil berplat merah mulai hilir mudik ke sana kemari.

Baca Juga  Tembang Duka Hati

Orang-orang pun dari berbagai daerah mulai ramai kunjungi daerah ini. Ada yang membawa map, ada yang membawa ijazah.

Entah apa tujuan pastinya. Yang jelas daerah ini mulai menggeliat dan ramai dikunjungi orang-orang.

Markudut masih tetap menghidupi istrinya dengan berjualan ikan dari kampung ke kampung. Dari desa ke desa. Menyusuri jalan-jalan dusun yang mulai banyak rusak dan penuh lobang.

Markudut ternyata tak sebagaimana dulu yang diperkirakan orang. Markudut akan kaya jika cita-cita Kabupaten Baru terbentuk. Markudut akan banyak mengelola proyek. Markudut akan duduk tak berbatas dengan para pejabat.

Dan Markudut Akan punya segala-galanya. Akan tetapi, Markudut tetaplah Markudut, pemuda kampung yang berjuang tanpa pamrih. Yang tetap menjalankan aktivitasnya sebagai penjual ikan keliling.

Malam itu di bulan Januari , purnama menghiasi malam. Keindahan cahayanya tak terperikan. Memesona seluruh penghuni jagad alam. Sebuah keindahan yang maha dahsyat dan agung dari Sang Pencipta untuk manusia di bumi.

Markudut sedang asyik bercengkerama dengan istrinya di teras depan rumah kontrakan mereka.

“Budak tuh besok nek minta dibelikan sepatu. Die ikut baris indah memperingati hari jadi daerah,” ujar istri Markudut.