Suap dari pengusaha “nakal” ini sedikit demi sedikit mulai memberikan “upeti” yang kurang jelas. Proyek-proyek Negeri Terra Stannum mulai beralih ke pengusaha-pengusaha nakal ini. Sebagian pekerjaan bahkan ada yang gagal.

Mulailah terjadi kerusakan lingkungan yang masif terjadi dari penggalian Stannum ini. Banyak persetujuan tanpa verifikasi yang tertib telah dikeluarkan oleh Senja Kuraue. Retaklah keseimbangan alam yang selama ini telah dibangun Rona Buhiran sang Maestro sebelumnya.

Rakyat Negeri Tera Stannum yang tadinya petani, mulai beralih menjadi penggali mineral Stannum. Banyak lahan perkebunan jadi lobang-lobang seperti danau kecil di tanah pertaniannya. Habis sudah tanaman kebun petani yang sebelumnya tumbuh baik di lahan mereka akibat galian Stannum.

Baca Juga  Rimbak, Lebak, Rebak, Kubak, Bebak, Kelekak (Bagian 7)

Para pengusaha penggalian mineral Stannum ilegal juga marak terjadi. Banyak mengalir Stannum tak bersurat keluar dari Negeri Terra Stannum. Pegawai bahkan ikut-ikutan nyambi menggali Stannum. Akibatnya, kerja utama mereka menata organisasi Negeri Terra Stannum jadi amburadul.

Senja Kuraue selaku pemimpin negeri diam seribu bahasa jika ditanya. Kalaupun perlu menjawab, jawaban normatifnya Tuan Senja Kuraue bahwa itu semua untuk kesejahteraan rakyat di Negeri Terra Stannum.

Menyaksikan dan merasakan kondisi tersebut, Rona Buhiran Sang Maestro terbaik Negeri Terra Stannum terbawa haru dan menyesali keadaan seperti itu  bisa terjadi.

Frustasinya Sang Maestro tersebut sempat terucap dari lubuk kalbunya bahwa: “Sepertinya sia-sialah apa yang telah Aku bangun dan Aku letakkan pondasi untuk Negeri Terra Stannum selama ini”. Apalagi Senja Kuraue juga termasuk didikan Sang Maestro yang sebelumnya  adalah bukan siapa-siapa di Negeri Terra Stannum.

Baca Juga  Ngitung Kasau

Kedai Kopi Agung, Bukit Baru, Jumat, 17-01-2025. 15.10 Wib