Isra Mikraj dan Imlek pada dasarnya dua entitas nilai spiritualitas yang berbeda secara prinsip keimanan. Tetapi, ada bentuk nilai kognitif keduanya yang menjadi titik-temu toleransi di dalamnya. Antara bentuk datangnya kewajiban shalat dalam Isra Mikraj-nya Nabi sebagai (anil fahsa’ iwal mungkar). Serta, perayaan Imlek sebagai transformasi diri secara spiritual dalam mencapai ketenteraman sosial, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Secara sublimatif, toleransi di dalam spiritualitas Imlek dan Isra Mikraj sebetulnya tidak tentang perkara pencampuradukan iman. Tetapi, toleransi berkaitan dengan rasa bentuk empati kita atas spiritualitas keimanan yang berbeda itu. Dengan melihat (potensi nilai) yang sama-sama bisa membawa maslahat bagi kehidupan sosial dan peradaban.

Menurut John S. Dune tentang “Passing Over” and “Come back”. Dalam konteks toleransi beragama, seseorang perlu memahami nilai-nilai spiritualitas agama lain bukan untuk meyakini kebenarannya ataupun mencari kesalahannya. Tetapi, melihat bagaimana perbedaan dan persamaan yang harus kita sikapi dengan kesadaran yang bijaksana.

Baca Juga  Peringati Isra Mikraj, Siswa SMPN 3 Toboali Diajak untuk Selalu Tegakkan Tiang Agama

Dalam islam, Toleransi beragama terkandung dalam surat Al-Kafirun ayat 1-6, yang artinya:
“Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al-Kafirun ayat 1-6).

Toleransi yang bisa dilakukan adalah dengan cara tidak menghina atau merendahkan agama yang dianut orang lain. Berikut ini manfaat yang bisa kita dapatkan saat kita menerapkan sikap toleransi beragama di antaranya yaitu:

1. Menciptakan Kerukunan dan Keharmonisan

Dalam kehidupan sosial akan selalu ada perbedaan, namun hal ini tidak boleh menjadi penghalang atau menjadi sumber perpecahan. Dengan adanya perbedaan ini kita justru harus menghargainya agar terciptanya kerukunan dan keharmonisan.

Baca Juga  Selamat Jalan Pipiet Senja, sang Pejuang Kata dan Cahaya Literasi

2. Mencegah terjadinya konflik

Konflik biasanya terjadi karena adanya perbedaan. Bisa karena perbedaan pendapat, cara berpikir, atau latar belakang seperti sosial-ekonomi, suku, ras, maupun agama. Maka dari itu kita harus menerapkan tolerasi agar bisa hidup dengan damai.

3. Persatuan bangsa Indonesia akan terwujud

Dengan berbagai macam perbedaan yang ada di Indonesia, membuat negara ini rentan terjadi konflik. Konflik ini pun tidak hanya berdampak pada individu tetapi juga berdampak pada kesatuan negara. Sebagai warga negara yang baik, kita harus menjaga ketertiban dan keamanan bersama agar terciptanya kestabilan negara.

Contoh sikap toleransi antar umat beragama yang bisa kita lakukan adalah:

  • Tidak memaksa orang lain untuk menganut agama yang kita anut
  • Tidak menganggap agama kita lebih benar di depan orang yang beragama lain
  • Memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan meski menganut agama yang berbeda
  • Tidak mengganggu acara yang dirayakan oleh umat agama lain
  • Tidak merusak tempat suci atau ibadah agama lain
  • Tidak menjadikan agama lain sebagai bahan candaan
  • Menghargai pendapat orang lain tanpa memandang agama yang dianutnya.
    Itulah manfaat yang bisa kita dapatkan dari sikap toleransi antar umat beragama.
Baca Juga  Kokurikuler SAKTI: Menemukan Makna di Sela-Sela Tumpukan Views

Kutipan “Isra Mikraj dan Imlek: Dari Toleransi Beragama Menuju Toleransi Bernegara dalam Pemilu” Sitti Faizah.

Penulis merupakan Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN SAS Babel.