Bulan-bulan berlalu, Pongah mulai merasakan kedamaian di dalam dirinya. Tanpa pengaruh media sosial, ia menemukan kebahagiaan dalam momen sederhana, membantu ibu di rumah, belajar memahami keaslian dan kejujuran tanpa gangguan, dan menghabiskan waktu berkualitas dengan teman-teman dekatnya. Dalam proses ini, ia juga memperbaiki cerminnya dan merawat diri dengan lebih baik.

Saat Pongah siap kembali ke dunia maya, ia telah bersiap dengan pandangan baru. Pongah memutuskan untuk berbagi momen-momen yang nyata dan positif, tanpa filter atau manipulasi. Pongah mulai mengunggah gambar yang menunjukkan kehidupan apa adanya, termasuk momen-momen ketika ia merasa tidak sempurna.

Berbagai postingan Pongah kali ini mendapatkan respons yang berbeda. Teman-temannya ternyata merespons dengan positif, banyak yang mengaku lebih nyaman dengan kejujuran Pongah. Mereka mengatakan bahwa mereka lebih bisa terhubung dengan realitas yang ia tunjukkan. “Cermin retak itu bukan hanya sekadar gambar, tetapi simbol perjalanan Pongah menemukan dirinya yang sebenarnya”.

Baca Juga  Tujuh Karya Keigo Higashino, Novel Angsa dan Kelelawar Rilis Di Indonesia

Sekarang, Pongah belajar bahwa media sosial bisa menjadi alat yang positif jika digunakan dengan bijak; untuk berbagi kebaikan dan inspirasi. “Cermin retak itu pun tak lagi dianggap sebagai cacat, melainkan sebuah karya seni yang unik sebuah pengingat bahwa setiap orang memiliki sisi retak dalam hidup mereka, dan itu tidak perlu ditutupi, melainkan dirayakan”.

Mendapatkan semangat baru, Pongah melanjutkan perjalanan hidupnya, belajar untuk melihat keindahan dalam ketidaksempurnaan. Dia tahu, meski media sosial tak akan pernah sempurna, ia bisa memilih untuk menciptakan momen yang mendekati kebenaran. “Cermin retaknya kini bersinar kembali, tidak hanya sebagai refleksi fisik, tetapi juga sebagai simbol perjalanan etika dalam bermedsos”.

Baca Juga  Aku Baik-baik Saja

Heri Suheri merupakan penulis tetap Timelines.id