Oleh: Heri Suheri, CIJ., CPW., CA-HNR, CFLS.

Di sebuah kepulauan, terdapat seorang setengah baya bernama Pongah. Pongah adalah sosok yang cerdas, kreatif, dan sangat aktif di media sosial. Setiap hari, ia mengabadikan momen-momen dalam kehidupannya, dari senyuman di pagi hari, kegiatan kerja di syarikatnya, hingga kemeriahan saat berkumpul dengan teman-temannya. Semua itu ia unggah di media sosialnya, berharap bisa mendapatkan banyak “likes” dan “coment”.

Suatu waktu, ketika Pongah sedang asyik mengedit foto, ia melihat cermin besar di kamarnya. “Cermin itu retak, memantulkan bayangan dirinya dalam berbagai pecahan yang tak sama. Pongah tersenyum, membayangkan betapa menariknya jika ia bisa mengubah bayangan retak itu menjadi konten yang menarik untuk diunggah”. Ia pun memotret dirinya dalam berbagai sudut, mencoba menemukan cara terbaik untuk menonjolkan keunikan cermin retak tersebut.

Baca Juga  Jangan Lupa Bersyukur

Seiring berjalannya waktu, ketertarikan Pongah pada media sosial berubah menjadi obsesi. Ia mulai mengedit foto-fotonya secara berlebihan, memanipulasi kenyataan untuk mendapatkan pengakuan. “Setiap kali unggahan Pongah melejit, hatinya terasa senang. Namun, di balik itu, ia sering kali merasakan kehampaan. Dalam pencarian pengakuan, ia kehilangan jati dirinya”.

Suatu malam, saat Pongah scroll media sosial, ia menemukan sebuah postingan dari teman kerjanya, Bulin, yang mengungkapkan kekecewaannya terhadap perilaku di media sosial. Bulin menulis tentang bagaimana banyak orang yang berpura-pura bahagia dan sempurna di platform tersebut, padahal kenyataan seringkali jauh berbeda. “Pongah tersadar seolah cermin retak tersebut mencerminkan realitas dirinya, ia tampak bagus di luar, namun retakan di dalam hatinya semakin lebar”.

Baca Juga  Kisah Arumi, Selimut dan Bantal

Pongah merasa galau, dan bingung, di satu sisi, ia ingin tetap eksis dan mendapatkan pujian, tetapi di sisi lain, “ia merindukan keaslian dan kejujuran”. Ia pun memutuskan untuk berhenti sejenak dari media sosial dan merenungkan hidupnya. Selama beberapa hari, Pongah tidak membuka aplikasi media sosialnya, fokus pada kegiatan berkualitas sehari-hari dan orang-orang di sekitarnya.