Pilkada dan Pelajaran dari Ahok
Lebih lanjut Ahok pun menambahkan bahwa menurutnya kekuasaan hanyalah titipan Tuhan semata. “Percayalah kekuasaan itu Tuhan yang kasih dan Tuhan pula yang ambil,” tegasnya. Oleh sebab itu, dia berani mengatakan bahwa tanpa seizin Yang Maha Kuasa, siapa pun tak bisa menjabat sebagai gubernur. “Jangan sedih, Tuhan selalu tahu yang terbaik,” imbuhnya.
Memang bila dianalisis kembali, secara keseluruhan, kekalahan Ahok di Pilgub DKI 2017 merupakan hasil dari kombinasi faktor hukum, sosial, politik identitas, serta dinamika kampanye yang kompleks. Misalnya saja, kasus penistaan agama. Ahok terjerat kasus hukum yang sangat kontroversial terkait dengan dugaan penistaan agama.
Pada tahun 2016, Ahok mengatakan dalam sebuah pidato yang kemudian dianggap oleh sebagian kalangan sebagai penghinaan terhadap Al-Qur’an. Hal ini menimbulkan protes besar-besaran dari berbagai kelompok Islam dan mempengaruhi citra politiknya secara signifikan. Meskipun Ahok sudah menjalani proses hukum, kasus ini menjadi sangat dominan dalam kampanye Pilgub DKI 2017.
Penyebab lainnya ialah, gencarnya koalisi Pendukung Anies. Anies Baswedan, yang akhirnya memenangkan Pilgub DKI, didukung oleh koalisi partai politik yang kuat, termasuk partai-partai besar seperti Gerindra dan PKS. Dukungan ini memberikan basis yang kuat dalam hal logistik, jaringan, dan mobilisasi pemilih. Sementara Ahok hanya didukung oleh beberapa partai politik, meskipun memiliki rekam jejak yang kuat dalam memimpin Jakarta.
Penyebab berikutnya yang bisa pula berpengaruh adalah kinerja Ahok yang kontroversial. Meskipun Ahok dikenal sebagai gubernur yang tegas dan berani dalam melaksanakan kebijakan, beberapa kebijakan yang diambilnya juga menimbulkan ketidakpuasan di kalangan sebagian warga, terutama terkait dengan penggusuran dan pembangunan infrastruktur yang dinilai penuh kontroversi. Hal ini menjadi bahan kampanye lawan untuk menuduh Ahok kurang mendengarkan suara warga kecil.
Arti Kemenangan
Kemenangan yang datang dengan kehormatan akan memberikan kekuatan moral dan legitimasi. Itu akan membantu seorang pemimpin menjalankan tugasnya tanpa beban. Ahok sadar bahwa dalam politik, apa pun bisa terjadi, namun menjaga harga diri dan integritas nampaknya jauh lebih penting. Mungkin ini adalah pesan yang ia tanamkan dalam dirinya.
Dan meskipun pada akhirnya, Ahok kalah dalam Pilkada Bangka Belitung 2007, ia tetap menjadi pribadi yang disegani banyak orang, dan terbukti kemudian menarik perhatian dan simpati para elite di poros politik tanah air. Lalu takdirlah yang selanjutnya mengantarkannya pada posisi berikutnya yaitu menjadi Wakil Gubernur DKI, menjadi Gubernur DKI, sampai terakhir membawanya ke karir sebagai Komisaris Utama di PT Pertamina.
Ia setidaknya sudah menunjukkan kepada khalayak bahwa dalam politik, tidak selalu kemenangan yang tercatat di angka yang pertama yang akan menjadi penentu. Kadang, justru mereka yang kalah dengan cara yang terhormat akan keluar sebagai pemenang sejati di hati masyarakat. Karena, seperti yang dikatakan Dahlan Iskan, “Sukses itu bukan soal menang, tapi soal berani berjuang untuk apa yang diyakini.”
Bagi para peserta pilkada saat ini, inilah saat yang tepat untuk menimbang lebih dalam apa yang sesungguhnya dicari dalam politik. Jangan terjebak oleh kemenangan yang semu, yang hanya bertahan sementara. Jangan biarkan ambisi menghalalkan segala cara, karena politik yang sehat seharusnya dibangun di atas dasar integritas dan pengabdian kepada rakyat.
Ahok menunjukkan bahwa sebuah kemenangan yang terhormat, yang datang dari hati rakyat, adalah kemenangan yang sesungguhnya. Kemenangan yang diperoleh dengan jujur, tanpa manipulasi, tanpa intervensi, adalah kekuatan yang akan menjadikan seorang pemimpin berdiri dengan kepala tegak.
Pemimpin yang baik bukanlah yang paling pandai dan lihai dalam bermain angka, tapi yang mampu meraih kepercayaan publik. Kepercayaan itu tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa dipaksakan lewat keputusan hukum, tapi harus didapatkan lewat kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Kehormatan dan prinsip adalah hal yang jauh lebih penting daripada sekadar angka kemenangan. Jika seorang pemimpin berusaha meraih kemenangan dengan mengorbankan harga diri, maka ia akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu legitimasi dari masyarakat yang memilihnya. Di situlah letak kekuatan seorang pemimpin sejati. Tak takut kehilangan kemenangan karena ia tahu bahwa harga diri dan integritas lebih tinggi dari sekadar perolehan suara.
Jangan biarkan hasrat untuk menang mengaburkan pandangan tentang apa yang benar. Menanglah dengan kehormatan, dan rakyat akan mengingatmu bukan hanya karena posisi yang kau duduki, tetapi karena kualitas dirimu yang sejati. Salam Takzim.
Penulis merupakan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung.
