“Saya berharap teman-teman Pokdakan Pinang Raya menjadi contoh bagi pokdakan lainnya untuk terus berkembang. Tidak ada yang tidak mungkin kalau berusaha. Buktinya Pokdakan Pinang Raya yang sudah berdiri sejak tahun 2008 masih tetap eksis,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Pokdakan Pinang Raya, Feriyadi (43), menjelaskan dibutuhkan jangka waktu kurang lebih 4 hingga 5 bulan produksi hingga panen budidaya ikan nila dan patin. Bahkan disampaikan Feriyadi, panen skala besar itu rata-rata dengan tebaran 4.000 benih dapat meraih hingga 800 kg ikan nila.

“Sedangkan untuk patin, dari 3.000 tebaran benih yang kita lakukan dapat mencapai target hingga 1 ton 500 kg. Sejak 2013 kita sudah menjual hasil budidaya ikan ini baik ke Pangkalpinang maupun kabupaten lain di (Pulau) Bangka,” ungkap Feriyadi.

Baca Juga  Kemilau Ramadan, SMPN 1 Koba Salurkan 234 Paket Sembako Senilai Rp35 Juta

Ia pun merasa terbantu dengan bantuan program dari Bank Indonesia serta dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah kepada para pembudidaya yang ada di Desa Pinang Sebatang.

“Alhamdulillah, dengan bantuan Smart Digital Farming ini masyarakat sangat terbantu. Menggunakan smart digital farming kita bisa melakukan pembudidayaan dengan baik serta teratur, bahkan bisa mengurangi rasio jumlah pakan yang awalnya dengan cara manual itu FCRnya (Feed Conversion Ratio) 1.5 sekarang dengan ini FCRnya menjadi 1.3,” ujarnya.

“Tak hanya itu juga, dengan mesin pengasapan ikan yang dibantu oleh BI, juga sangat membantu mengembangkan perekonomian dengan cara inovasi-inovasi baru seperti ikan asap dan marinasi yang saat ini kita kembangkan,” imbuhnya.