Mengompos sampah organik selain mengajarkan kepada keluarga tentang pemanfaatan sampah sebagai alternatif pupuk tambahan, juga mengajarkan pentingnya sampah jika dapat dimanfaatkan secara baik.

3. Menyalurkan Sampah Anorganik Ke Bank Sampah Daerah atau Tukang Besi Buruk (Rongsokan)

Khusus sampah anorganik yang berupa botol plastik, minuman plastik kemasan dan kaleng kami kumpulkan dan jika telah memenuhi batas tertentu bisa kita salurkan ke bank sampah yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten Bangka Selatan atau tukang besi buruk (tukang rongsokan) untuk ditukar dengan berapa rupiah uang.

Penyaluran sampah anorganik ke bank sampah atau tukang besi buruk (tukang rongsokan) juga bisa mengajarkan pada keluarga bahwa sampah jika dikelola dengan baik dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Baca Juga  Becak Babel Latih Pemuda Kelola Sampah Hasilkan Cuan

Selain itu, jika sampah anorganik dapat kita dikelola dengan baik dan tidak dibuang begitu saja ke tempat sampah, sungai atau selokan dapat menghindarkan lingkungan kita dari pencemaran atau sumbatan sehingga tidak menyebabkan luapan air dan memudahkan proses pengelolaan sampah selanjutnya.

4. Membakar Sampah Anorganik (Kemasan Sabun, Plastik Dan Bumbu Dapur)

Mungkin bagi sebagian orang tidak setuju dengan cara ini, karena dapat menambah masalah lingkungan atau lainnya, namun bagi yang tinggal di desa hal itu bisa menjadi cara ampuh.

Daripada hanya dibuang sehingga dapat menjadi limbah yang mencemari tanah atau sungai, membakar sampah anorganik bisa menjadi alternatif untuk mengurangi masalah sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Baca Juga  KoKo Edu, Dorong FYP Konten Edukasi

5. Membiasakan Membawa Tumbler (Botol Air)

Membiasakan membawa tumbler (botol air) bisa kita lakukan ketika berangkat ke sekolah, tempa kerja dan atau ketika berpergian. Membawa tumbler (botol air) selain untuk membiasakan pola hidup sehat juga bisa mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai.

Kenapa? karena ketika membawa tumbler (botol air) ke sekolah atau tempat kerja secara otomatis dapat mengurangi konsumsi air minum kemasan yang dapat menjadi potensi sampah di rumah.

6. Membawa Tote Bag (Tas Kantong) ketika ke Pasar atau Berbelanja

Tak kalah penting adalah membawa tote bag (tas kantong) untuk mengurangi jumlah sampah plastik kresek dari setiap pembelian baik buah, sayur atau bahan lainnya yang kita lakukan.

Baca Juga  Karyawan PT Timah dan Warga Kelola Sampah dengan Bijak dan Bernilai Ekonomis

Hal itu dilakukan tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengurangi jumlah sampah plastik kresek ke rumah sehingga pengelolaanya tidak membuat susah nantinya.

Itulah beberapa prinsip-prinsip sederhana pengelolaan sampah yang bisa kita lakukan untuk mengurai masalah sampah dari rumah dan tentunya menghidarkan kita dari sumpah-serapah soal sampah, amin.

#Salam Hari Peduli Sampah Nasional
#HPSN 2025

Penulis merupakan pengajar di SMPN 2 Tukak Sadai, Bangka Selatan.