KoKo Edu, Dorong FYP Konten Edukasi
Oleh: Karto, S.Pd., M.M.
Hampir setiap hari ketika sedang bersantai di warung kopi, di teras rumah, di warung-warung, akan selalu ada anak-anak yang membuat perhatian ini tertuju kepada mereka. Anak-anak sekolah atau bahkan yang belum sekolah sekalipun berjoget ria di depan Handphonenya masing-masing.
Sekadar gerakan kepala, badan, tangan, bahkan seluruh tubuh diiringi lagu-lagu remix jedag jedug dan dilengkapi kata-kata yang sedang tren pula di kalangan mereka. Saya kira hampir di setiap penglihatan dan pendengaran kita sehari-hari seolah-olah dipaksa untuk melihat dan mendengar hal ini.
Ya, mereka itulah anak-anak remaja yang sedang membuat konten digital di aplikasi Tiktok, youtube, instagram, facebook reel pro ataupun yang lainnya. Sudah tidak diragukan lagi pula skill mereka dalam mengedit konten-konten jedag jedug seperti ini untuk kebutuhan sosial media sehingga bisa menjadi konten yang naik daun, direkomendasikan bagi pengguna lainnya atau disebut dengan istilah, For Your Page (FYP).
Bahkan ketika saya menggunakan sosial media saya sendiri yang di antaranya terhubung dengan beberapa murid di sekolah, alumni, atau anak-anak sekolah lain, sering bermunculan beragam konten yang mereka buat setiap harinya, berinteraksi dengan mereka meski sekadar menekan logo hati semata.
Saya mulai berpikir beberapa hal, betapa rajinnya anak-anak ini membuat konten, entah untuk sekadar berjoget-joget saja, menyampaikan kata sindiran kepada teman, kata-kata mutiara tokoh tertentu, tentang orang tua, atau bahkan kata-kata galau untuk gebetan nya masing-masing.
Saya punya sekitar lima puluhan kontak murid dan alumni sekolah yang tertaut ke media sosial dan mereka rajin sekali membuat konten. Di waktu senggang, sering pula saya scroll konten-konten mereka satu persatu.
Saya berani menyimpulkan untuk sample yang pernah saya lihat ini, akun-akun yang tertaut dengan akun saya tersebut, 90% murid tidak pernah membuat konten-konten yang bernuansa edukasi. Isiannya lebih banyak ke hal-hal hiburan.
Mundur Wir, Lo Punya Kuasa, Musik Remix, Kata-kata galau, kata-kata romantis, masih mendominasi konten-konten remaja-remaja ini. Saya hanya terus merenung sembari memantapkan diri bahwa inilah dunia murid ku sekarang, dunia remaja mereka, maka mau tidak mau saya sebagai guru juga harus melibatkan diri ke dalamnya.
Sebagai teman dan kontrol sosial di dalamnya. Namun yang menjadi motivasi saya kembali, rajinnya mereka membuat konten ini memberikan ide bagi saya pribadi untuk menghadirkan program sekolah yang dekat dengan dunia mereka ini.
Pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul bagaimana membuat mereka tetap rajin ngonten tetapi dengan esensi konten yang bernuansa edukasi. Membuat kegemaran mereka tidak hilang, namun dengan konten-konten yang lebih mengedukasi.
Hal ini juga diharapkan dapat memotivasi penguasaan P5 murid terutama aspek kreatifitas dalam membuat konten bernilai edukasi sehingga menghasilkan karya yang juga bermanfaat bagi orang lain yang melihat konten tersebut.
Hadirlah program Kompetisi Konten Edukasi atau disingkat KoKo Edu. Program yang sudah pernah saya sosialisasikan pada saat kegiatan pendidikan calon guru penggerak ini, masih sangat menjadi perhatian saya pribadi sebagai guru.
Tujuannya tentu mendorong murid dalam merangkum, merekam dan merefleksikan apa yang sudah murid pelajari dalam bentuk konten-konten menarik. Sebuah program sekolah yang terus diujikan dampaknya terutama di sekolah kami sendiri SMP Negeri 8 Toboali.
Murid sudah mempunyai basic dalam hal editan konten yang sangat menarik selama ini. Dengan ragam fasilitas yang ada di dalam gadget nya masing-masing yang setiap hari tanpa lepas mereka pegang di tangan. Lewat program ini kita berusaha untuk sedikit demi sedikit mengarahkan isi konten yang dibuat murid menjadi lebih bermakna dengan esensi edukasi di dalamnya.
