Hentikan asal Bicara Tanpa Data
Oleh: Syamsul Bahri — Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
Kemajuan teknologi di zaman sekarang membuat kita sangat mudah memperoleh informasi. Informasi itu tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Mulai dari bangun tidur sampai kita tidur lagi bermacam-macam informasi dapat kita serap.
Informasi suka dan duka akan dengan mudah kita peroleh, bahkan informasi yang sensitif pun dapat dengan mudah kita terima dan dalam waktu yang singkat juga kita dapat memberikan tanggapan atau pun komentar terhadap informasi yang kita terima itu.
Sebenarnya tidak ada salahnya jika informasi itu dapat kita kelola dan tidak gegabah dalam meresponsnya. Karena akan menjadi masalah jika kita serampangan dalam menilai dan mengomentari sesuatu yang belum kita ketahui secara detail kebenarannya.
Jika dahulu ada kata mutiara yang mengatakan bahwa lidah itu bagaikan pedang, maka di zaman modern sekarang bisa saja jarimu adalah pedang. Untuk menghindari kesalahan dalam merespons sesuatu info maka kita harus menerapkan tabayyun terlebih dahulu. Di dalam wikipedia.org. disebutkan kata tabayyun, berarti “meneliti, menjelaskan, memahami, mencari tahu, atau memverifikasi”.
Sudah sering kita jumpai ketika seseorang yang asal bicara tanpa data yang valid. Artinya kemungkinan data yang diperoleh asal-asalan ditambah tidak diverifikasi lagi, atau hanya menerima laporan saja dari bawahannya, karena tidak adanya tabayyun tadi maka komentar yang disampaikan bertentangan dengan fakta yang ada, tentunya hal itu akan mendapatkan protes atau bahkan cemoohan dari yang mengalami langsung, dan yang paling malu nantinya orang yang sembarangan bicara itu harus meminta maaf juga.
Contoh yang masih hangat dalam ingatan kita adalah komentar seorang pejabat terkait bencana banjir bandang yang menimpah tiga provinsi di pulau Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Komentar pejabat tersebut sangat nyata didasari oleh data yang serampangan, jika dilihat dari statemennya pejabat tersebut hanya menyimpulkan lewat asumsinya saja. Komentar itu bisa dikategorikan asal bicara tanpa melakukan penelitian yang jelas, tanpa berusaha mencari tahu kebenaran dan tanpa memverifikasi.
Pernyataan yang bisa dikategaorikan tanpa tabayyun adalah apa yang diucapkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, beliau menyatakan bahwa situasi bencana banjir bandang tidak mencekam seperti yang beredar di media sosial, dan menurutnya hal itulah yang membuat pemerintah belum kunjung menetapkan status bencana nasional. (tirto.id).
Pernyataan itu sontak mendapat reaksi keras dari berbagai pihak, karena pernyataan itu dianggap tidak berdasar dan tidak menunjukkan rasa empati terhadap musibah yang terjadi.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Generasi Aceh Peduli menilai pernyataan tersebut kurang empati terhadap penderitaan dan korban jiwa akibat bencana hidrometeorologis yang melanda wilayah Sumatera, termasuk Aceh, dalam beberapa hari terakhir.
