Ketua LSM Generasi Aceh Peduli, Burhanuddin Alkhairy dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (30/11/2025) menegaskan, bahwa situasi di lapangan jauh lebih serius dari yang dibayangkan. (serambinews.com)

Beberapa hari setelah dikritik, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, akhirnya memohon maaf atas kesalahannya dalam memandang dampak banjir Sumatera.

Permintaan maaf tersebut disampaikan Suharyanto saat ia melakukan kunjungan langsung ke lokasi bencana di Tapanuli Selatan pada Minggu (30/11). Setelah melihat langsung kondisi di lapangan, Jenderal bintang tiga TNI AD itu mengaku sangat terkejut dan tidak menyangka dampak bencana di daerah tersebut sedemikian dahsyat.

“Tapsel saya surprise (terkejut), saya tidak mengira seperti ini. Saya mohon maaf Pak Bupati. Ini, bukan berarti kami tidak peduli begitu. Kami hadir di Tapanuli ini, untuk membantu, tidak melihat suku, agama, ras. Sama bagi kami. Jadi kami turun dengan kekuatan penuh,” ujar Suharyanto, menegaskan komitmen penuh BNPB untuk membantu. Begitulah kutipan permintaan kepala BNPB.

Baca Juga  Menanti Kedamaian bagi Penjaga Perdamaian

Kejadian di atas setidaknya sebagai pembelajaran bagi kita semua untuk tidak menyebarkan suatu informasi jika belum benar-benar mengetahui kevalidannya.

Tentunya juga konsep berbicara harus dengn data ini berlaku untuk semua kalangan tidak hanya bagi para pejabat. Selaku masyarakat biasa pun harus memegang konsep ini, sehingga jika ada infromasi yang didapat tidak langsung share saja. Oleh karena itu sekali lagi pentingnya kita bertabayyun sebelum berbicara atau menyebarkan suatu informasi.

Dalam Jurnal Universitas Islam Indonesia disebutkan alasan pentingnya tabayyun dalam menerima berita adalah untuk menghindari dari kegiatan yang asal membagikan berita palsu. Berita palsu merugikan masyarakat. Masyarakat menjadi was-was ketika ada berita yang menakutkan, padahal belum terbukti kebenarannya.

Baca Juga  Tinjauan Implikasi Hukum Tindak Pidana dengan Nilai Kerugian di Bawah Rp2,5 Juta

Terkadang orang lebih ingin mempercayai berita palsu daripada mencari fakta-fakta kebenarannya. Bisa saja berita palsu dibuat hanya karena ingin menghancurkan wibawa seseorang atau ingin usaha seseorang gagal.

Jadi terlihat sekali dampak negatifnya jika kita berbicara atau menyebarkan informasi tanpa data. Dampaknya bisa untuk pribadi kita, seperti dihujat, tidak dipercaya lagi sampai dijauhi. Bagi orang lain dampaknya bisa membuat citra seseorang tercemar, bisa membahayakan orang lain sampai kepada estafet kebohongan. Semoga kita terhindar dari golongan yang berbicara tanpa data.

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (H.R. Bukhari).