Kebebasan yang Tidak Bebas
Oleh: Syamsul Bahri — Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
Ada sebuah istilah yang dicetuskan oleh psikoanalis terkenal, Sigmund Freud, yaitu repetition compulsion atau kompulsi pengulangan. Kompulsi pengulangan adalah fenomena psikologis di mana seseorang berulang kali memerankan kembali peristiwa traumatis atau keadaan yang menyertainya, seolah-olah dalam upaya untuk menguasai, menyembuhkan, atau memahami peristiwa tersebut, meskipun hal itu dapat mengakibatkan kerugian.
Konsep ini berakar pada psikoanalisis Freudian, yang menyatakan bahwa orang “terpaksa” untuk mengulangi perilaku atau peristiwa masa lalu. (Olivia Guy-Evan Msc)
Istilah tersebut memang diperuntukkan bagi seseorang yang mengalami traumatik karena adanya keinginan menyembuhkan atau memahami suatu peristiwa. Namun istilah itu tampaknya juga bisa disematkan untuk yang mengulangi kesalahan sama. Kesalahan-kesalahan oleh satu stasiun televisi kemudian diikuti oleh stasiun yang lain sepertinya sangat cocok dengan istilah tersebut.
Tentunya masih hangat dalam ingatan kita beberapa bulan yang lalu stasiun televisi Trans7 melakukan pelecehan terhadap tokoh pesantren besar. Stasiun TV ini lantas menjadi sorotan dan menuai kecaman keras, terutama dari kalangan NU dan warga pesantren, terkait sebuah tayangan dalam program “Xpose Uncensored” yang dinilai menghina Pondok Pesantren Lirboyo dan para kiai pengasuhnya, seperti KH. Anwar Manshur.
Kejadian itu memicu desakan permintaan maaf hingga ancaman boikot dari masyarakat dan organisasi Islam. Pihak Trans7 kemudian menyampaikan permintaan maaf terkait tayangan yang bermasalah tersebut.
Belum kering “luka” umat Islam akibat pelecehan oleh media televisi tersebut dan seolah hendak membuka lagi luka, stasiun televisi nasional kembali berulah. Beberapa hari yang lalu (25/11/2025) kita kembali digemparkan dengan ulah salah satu station televisi yang menampilkan tayangan melecehkan agama Islam.
Entah disengaja atau tidak tayangan tersebut seolah mengulang kembali kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat oleh media sejenis. Kali ini staiun televisi Indosiar menjadi sorotan publik, setelah menampilkan sebuah siaran goyang yang diiringi lantunan kalimat tauhid.
Video yang ramai dibagikan memperlihatkan sosok Boger Bojinov, seleb TikTok yang dikenal tampil energik dalam berbagai acara hiburan. Dalam cuplikan tersebut, Boger terlihat naik ke panggung DA7 dan melakukan joget ala goyang ngebor. Pada awalnya, gerakan tersebut tampak sebagai bagian dari hiburan biasa.
Namun perhatian publik justru tertuju pada musik pengiring yang diputar saat Boger beraksi. Nada musik tersebut dianggap mirip dengan lantunan qasidah “Lailahaillallah”, salah satu kalimat tauhid yang memiliki posisi sangat sakral dalam ajaran Islam. Banyak warganet menilai penggunaan musik yang menyerupai lantunan religi tersebut tidak pantas jika dipadukan dengan bentuk hiburan yang dianggap terlalu bebas. Di sinilah kontroversi mulai muncul. (Mistar.id).
