Saya hanya membayangkan bagaimana keseruan anak-anak ini dengan dunia digitalnya tetap terjaga namun pula dengan unsur pembelajaran di dalamnya.

Dua hal yang menjadi fokus dalam program ini yaitu isi konten dan kompetisi. Konten yang dimaksud adalah isi konten yang bermakna edukasi.

Hal ini juga dapat dimanfaatkan murid untuk merefleksikan apa yang telah mereka  peroleh pada pembelajaran di sekolah pada pelajaran apapun. Sepulang sekolah murid akan senantiasa mengingat apa pembelajaran yang sudah mereka dapatkan tadi di sekolah sebagai bahan isi kontennya nanti.

Setiap murid diberikan kesempatan untuk berkonsultasi dengan guru mata pelajaran dalam merangkum, mengingat, dan mempelajari pelajaran yang mereka terima dari guru untuk dijadikan konten yang memiliki nilai edukasi yang kuat dan menarik, boleh pelajaran apapun yang murid kuasai dan senangi.

Disampaikan dalam bentuk infografis, diagram, dengan editan musik jedag jedugnya, kelap-kelipnya, maupun joget-jogetnya terserah, yang terpenting ada unsur informasi pembelajaran yang mereka ketahui pada hari itu disekolah termuat dalam konten yang mereka buat.

Baca Juga  Mempertanyakan Relevansi Rencana Pemberian Wewenang Pertambangan ke Perguruan Tinggi

Jika misi ini berhasil, saya yakin dengan rajinnya mereka buat konten edukasi akan semakin banyak informasi yang bertebaran di kalangan mereka, FYP, dan secara sengaja tidak sengaja, suka tidak suka, banyak atau sedikit, pembelajaran tersebut akan mereka baca atau terbaca setiap harinya.

Format kegiatan ini adalah kompetisi yang dapat diikuti oleh seluruh murid dan bertanding di setiap jenjang kelas masing-masing. Menurut beberapa penelitianpun menyatakan bahwa ada pengaruh signifikan antara Competitive Based Learning terhadap motivasi belajar murid, yang terpenting adalah bagaimana cara guru memotivasi murid yang belum berhasil menang dan menahan ego murid yang telah berhasil menang untuk tidak terlalu cepat berpuas diri.

Maka dari itu, tujuan kompetisi dilakukan agar siswa mempunyai motivasi untuk membuat konten semenarik mungkin dan memuat isi konten edukasi dengan kuat, mendalam dan disajikan secara menarik. Dengan kompetisi, murid akan merasa bahwa apa yang mereka lakukan lebih bermakna, dihargai, serta memiliki nilai.

Baca Juga  Pola Pikir dan Cara Bertindak Pembangunan Daerah Kepulauan

Hasil yang diharapkan dari kompetisi ini tentu saja tidak hanya menjadi tujuan jangka pendek murid, akan tetapi membiasakan murid untuk membuat rangkuman pemahaman yang dipelajari sehari-hari dalam bentuk konten digital yang menarik serta siswa dapat menumbuhkan jiwa kompetitifnya secara sehat, menjadi pelajaran berharga di kemudian hari, terutama di dunia kerja ataupun bisnis yang di era sekarang ini kompetisinya sangatlah ketat.

Ada kompetisi tentu ada penilaiannya. Dua hal yang menjadi indikator penilaian adalah kualitas dan kuantitas. Kualitas berupa kedalaman isi materi edukasi yang disajikan, apakah sudah memuat informasi pembelajaran pada ranah kognitif analisis dan kritis atau hanya sekadar pada ranah untuk mengingat dan menghafal saja.

Semua itu akan dinilai oleh guru mata pelajaran yang dipilih anak sebagai isi konten yang mereka buat, entah itu pelajaran matematika, IPA, IPS, PKn, Agama Islam, dan lain sebagainya dalam bentuk kata bijak tokoh ternama, kutipan kitab suci, simulasi, sejarah, rumus-rumus, tips and trick, tutorial, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Nasib Pilu Gaza, Bebaskan Segera

Kualitas selanjutnya yaitu editing visual, tentu poin pertama yaitu konten tidak melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat tidak vulgar dan tidak mengandung unsur Rasisme di dalamnya. Penilaian kedua yaitu Kuantitas, seberapa banyak konten edukasi yang dibuat murid dalam waktu yang ditentukan sekolah untuk dilakukan penilaian.

Kuantitas sangatlah berpengaruh, semakin rajin murid membuat konten edukasi, semakin banyak konten-konten ini berlalu lalang di beranda orang lain, sehingga misi menggeser konten-konten lain dengan konten-konten edukasi ke depannya bukan hanya sekadar cita-cita kosong belaka.

Dengan program Kompetisi Konten Edukasi (KoKo Edu) ini, jika sesuai rencana, orang tua dan guru tidaklah perlu cemas lagi jika anak-anaknya bermain gadget. Mereka akan disuguhkan dengan konten-konten edukasi yang lewat di beranda sosial media mereka dan semakin sibuk mencari isi konten yang mengandung pembelajaran didalamnya, algoritma video tren viral akan bergeser ke edukasi, FYP, dan ditonton orang banyak.

Karto, S.Pd.,M.M., Guru di SMP Negeri 8 Toboali, Bangka Selatan