Mengapa Para Istri Menggugat Cerai? Sinyal Lunturnya Tanggung Jawab Suami

Oleh: Raden Ayu Idandi Revalia Calista — Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Beberapa tahun terakhir, angka perceraian di Indonesia terus meningkat. Yang menarik dan sekaligus mengkhawatirkan adalah fakta bahwa mayoritas gugatan justru datang dari pihak istri.

Terutama menyangkut peran suami yang semakin sering diabaikan. Banyak istri merasa tidak lagi mendapat hak-hak dasar mereka.

Bukan hanya soal nafkah secara finansial, tapi juga perhatian, perlindungan, dan rasa aman. Saat suami tidak menjalankan tanggung jawabnya baik sebagai pasangan maupun sebagai ayah maka rumah tangga mulai kehilangan arah.

Tak sedikit perempuan yang akhirnya memilih bercerai, bukan karena tidak menghargai pernikahan, tapi karena merasa tak punya pilihan lain.

Baca Juga  Bisnis Digital Berbasis AI: Cara UMKM Memanfaatkan Kecerdasan Buatan untuk Tumbuh Lebih Cemerlang

Di tengah naiknya biaya hidup dan tuntutan zaman, tak sedikit laki-laki yang gagal beradaptasi. Ada yang kehilangan pekerjaan, lalu kehilangan semangat. Ada juga yang merasa tersaingi saat istri ikut membantu perekonomian keluarga.

Kondisi ini justru memunculkan ketegangan dan akhirnya konflik berkepanjangan. Padahal dalam Islam, suami bukan hanya pencari nafkah. Ia adalah pemimpin, pelindung, dan pendidik dalam keluarga.

Tapi di tengah realitas hari ini, banyak suami yang hanya menjadikan pernikahan sebagai formalitas, bahkan sekadar pelampiasan, tanpa komitmen untuk benar-benar membangun keluarga yang sehat. Di sisi lain, semakin banyak perempuan yang mandiri.

Mereka berpendidikan, punya penghasilan sendiri, dan berani bersuara. Saat menghadapi pasangan yang lalai, kasar, atau bahkan meninggalkan keluarga, mereka punya kekuatan untuk berkata: cukup. Maka cerai gugat pun jadi pilihan, bukan karena ego, tapi karena ingin lepas dari hubungan yang tidak sehat.

Baca Juga  Derita Lingkungan di Tengah Gemerlap Timah Bangka Belitung

Sayangnya, perempuan yang memilih bercerai masih sering dipandang buruk. Mereka dianggap gagal menjaga rumah tangga. Padahal banyak dari mereka adalah korban dari ketimpangan dalam hubungan tidak hanya secara ekonomi, tapi juga secara emosional dan spiritual.