Dan begitulah aku, pengembara dari Toboali, yang hidup antara rindu dan janji, antara kenangan dan harapan. Karena aku percaya, selama kita menjaga setiap kata dan cerita, tanah ini akan selalu berbicara, memanggil kita untuk kembali, dan menyatu dalam satu irama—irama kehidupan yang tak akan pernah berhenti.

Menyimpan cerita yang tak lekang oleh waktu. Di sinilah aku—seorang pengembara yang mencari jejak rindu dan warisan kata, menapaki jejak-jejak masa lalu yang tersembunyi di balik tiap helai angin laut.

Hari itu, aku tiba bukan hanya untuk singgah, tetapi untuk memahami. Dari Pantai Nek Aji hingga ke Pantai Gunung Namak, aku menyaksikan cahaya matahari menari di atas ombak, mengukir bayang-bayang yang menceritakan sejarah alam dan manusia.

Di antara batu-batu granit yang kokoh dan desir angin yang membawa aroma asin samudra, aku mendengar bisikan puisi—pantun, cerita rakyat, dan doa para nelayan yang telah lama tersimpan dalam kalbu negeri ini.

Baca Juga  Masjid Al Badar Pangkalpinang, Dibangun Sebelum Tahun 1928

Di suatu sore yang syahdu, aku bertemu dengan Ahmad Gusairi, sang guru dan penyair yang mengalirkan kearifan tradisi lisan Toboali. Dengan hangat ia menyambutku di berandanya, seraya berkata, “Pantun bukan sekadar rangkaian kata; ia adalah nyawa dari tempat ini.” Bersama para tetua, aku mendengarkan dan mencatat pantun-pantun lama—nasihat yang lembut, tawa jenaka, ungkapan cinta, dan doa-doa yang mengiringi perjalanan para nelayan melaut. Dari sana, aku belajar bahwa setiap kata adalah warisan yang harus dijaga agar tak tergerus waktu.

Namun, perjalanan ini bukan tanpa rintangan. Setelah berbulan-bulan mengumpulkan kisah dan puisi, aku melangkah ke Jakarta pada tahun 2003 dengan sebuah manuskrip yang berisi segala rasa, segala cerita dari Toboali.

Baca Juga  Sengketa Lahan di Toboali Berujung Penganiayaan, Bujang Jadi Tersangka

Di tengah proses yang penuh liku, di mana penerbit satu-satu menolak atau meragukan, aku harus berjuang untuk mewujudkan mimpi—agar warisan budaya ini dapat dinikmati dan dikenang oleh generasi mendatang. Akhirnya, pada tahun 2004, buku itu terbit.

Aku kembali ke Toboali untuk menunjukkan hasil kerja kerasku kepada Ahmad. Kebahagiaan dan harapan pun tercermin dalam tatapan kami, meski perpisahan tak terhindarkan: aku harus melanjutkan perjalanan, sedangkan Ahmad tetap menjadi penjaga tradisi di tanah kelahirannya.

Tahun-tahun berlalu, dan dunia pun berubah. Teknologi berkembang, zaman bergulir. Namun suatu pagi di awal tahun 2025, sebuah pesan tiba di layar ponselku. Pesan itu datang dari nama yang dahulu begitu akrab—Ahmad Gusairi—dengan satu kalimat sederhana, “Apa kabar? Masih ingat Toboali?” Pesan itu mengembalikan kenangan, menggetarkan hati, dan mengingatkan aku bahwa warisan itu hidup, meski jarak memisahkan.

Baca Juga  Hasil Autopsi Penemuan Mayat di Selokan Toboali: Ada Kekerasan akibat Benda Tumpul

Di balik setiap rindu dan setiap kata yang kutulis, Toboali tetap abadi. Ia adalah rumah bagi jiwa-jiwa yang tak ingin dilupakan. Aku tahu, perjalanan ini belum usai. Aku akan terus mengembara, terus menuliskan cerita dan pantun, agar suatu hari nanti, anak cucu kita dapat merasakan kehangatan dan keindahan tanah yang penuh dengan rindu dan warisan kata.

Dan begitulah aku, pengembara dari Toboali, yang hidup antara rindu dan janji, antara kenangan dan harapan. Karena aku percaya, selama kita menjaga setiap kata dan cerita, tanah ini akan selalu berbicara, memanggil kita untuk kembali, dan menyatu dalam satu irama—irama kehidupan yang tak akan pernah berhenti.

Penulis adalah sastrawan Indonesia yang tinggal di Aceh Tengah.