Pada sisi lain tidak ada tulisan yang tidak bagus. Tulisan yang tidak bagus adalah tulisan yang tidak pernah ditulis dan tidak pernah ada.

Selain membaca, menulis juga kebiasaan orang-orang besar. Sebut saja orang-orang besar dan berpengaruh yang pernah ada dalam lintasan sejarah, kita akan temukan bahwa kebanyakan mereka menulis buku.

Soekarno dan Hatta dwitunggal dan proklamator kemerdekaan Indonesia adalah orang yang sama-sama rakus dalam membaca dan menulis.

Keduanya menulis berbagai buku yang masih dibaca banyak orang sampai sekarang.

Pada 1927, saat usianya masih dua puluhan, Soekarno sudah menulis rangkaian artikel penting berjudul “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme”.

Bung Hatta tidak kalah keren. Ketika meminang Rachmi Rahim, Hatta menjadikan buku Alam Pikiran Yunani buku tulisan Hatta sendiri sebagai mas kawinnya.

Baca Juga  Gemar Membaca: Kunci Utama Mengembangkan Intelektual Generasi Muda

Kalau sudah demikian, segeralah menulis. Ambil penamu. Menulislah untuk amal jariyah kita.

Ngomong-ngomong, bagaimana rasa kopi susunya dokter muda Fatur?

Kalau Datuk Asyraf Suryadin mengakui kopi susu Toboali kuat juga yang ditulis beliau di grup percakapan WhatsApp Satu Pena Rabu (26/2) siang.

Penulis merupakan Ketua GPMB yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.