Oleh: Yan Megawandi

Hari-hari ini, rumah di Bukit Betung itu tak pernah sepi. Sejak kabar kepergian Bujoi tersiar, masyarakat datang silih berganti. Ada yang berdoa, ada yang sekadar berbagi cerita, ada juga yang masih sulit percaya.

Bujoi, begitulah panggilan akrab Ir. Tarmizi Saat di kampungnya, Kemuja, Kecamatan Mendo Barat. Nama itu melekat erat, bukan sekadar sapaan, tetapi cerminan dari kedekatannya dengan masyarakat.

Ia bukan sekadar pejabat, tapi pemimpin. Bukan sekadar pemimpin, tapi pelayan. Ia bukan hanya tahu cara memerintah, tapi paham bagaimana membimbing, mengayomi, dan mendengarkan.

Kariernya terbentang cukup panjang. Dari menjadi kepala bagian pembangunan, kepala dinas, asisten, hingga kemudian mencapai puncak karirnya di PNS sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka. Tapi ia tak berhenti di sana. Tahun 2013, ia dipilih rakyat menjadi bupati.

Saingannya Ketika itu adalah Yusroni Yazid. Bupati petahana yang juga politisi kawakan dari PPP. Tentu tidak semua birokrat berhasil melangkah sejauh itu. Tapi Tarmizi berbeda. Kepemimpinan sudah ada dalam dirinya sejak lama.

Baca Juga  Menengok Indonesia Sentris di Kepulauan Pongok, Visi Bangsa Membangun Dimulai dari Pinggiran

Kami, yang pernah satu angkatan dengannya saat Latihan Pra Jabatan di Diklat Putri Kembang Dadar, Sumatera Selatan, Palembang tahu betul soal ini.

Waktu itu, kami berlima CPNS yang dikirim dari Kabupaten Bangka: Tarmizi Saat, Asmawi Ali (belakangan jadi Pj Sekda Bangka), Amrullah Harun (terakhir menjabat Kepala Bappeda Provinsi Babel), Yan Megawandi (sekarang Widyaiswara di Provinsi Babel), dan Syafaatur Rahman (yang akhirnya pindah ke Kabupaten Ogan Ilir).

Di angkatan itu juga ada nama-nama besar lain seperti Ibnu Saleh (mantan Bupati Bangka Tengah) dan Hendra Gunawan (mantan Bupati Musi Rawas). Ketua kelas kami adalah Yulizar Adnan, yang kemudian menjadi Pj Sekda Babel dan Kadis Koperasi Babel.

Pada waktu Bupati Bangka dijabat oleh Bustan Halik, kami berempat berkesempatan menduduki jabatan sebagai kepala bagian. Tarmizi Saat sebagai Kepala Bagian Pembangunan, Yan Megawandi sebagai Kepala Bagian Humas, Yulizar Adnan sebagai Kepala Bagian Umum, KA Tajudin sebagai Kepala Bagian Hukum.

Baca Juga  Aceh Memang Istimewa

Sebagai pejabat yang paling yunior ketika itu maka rasanya tugas yang dibebankan terasa lebih berat. Kalau ada acara pastilah kami jadi pejabat yang harus hadir paling awal dan baru bisa pulang setelah semua pejabat senior bubar.

Biasanya pula kami di akhir kegiatan-kegiatan itu masih sempat ngobrol sekadar mengevaluasi apa saja kira-kira hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Supaya tidak dimarahi dan ditegur oleh para senior.

Dalam perjalanan waktu ketika Eko Maulana Ali kemudian menjadi Bupati Bangka dengan sekdanya Usman Saleh dan Taufik Rani, kami mulai mendapatkan kepercayaan jabatan yang agak meningkat.

Tarmizi setelah menjabat sebagai kepala Dinas PKT kemudian menjabat sebagai asisten bidang pembangunan. Yulizar hijrah ke Bangka Selatan dan menjadi Inspektur di Toboali.

Baca Juga  Batman si Penjaga Syair Terakhir

Yan Megawandi menjadi Kadispenda dan bergeser ke Kadis Pariwisata. Sementara KA Tajudin menjadi Asisten Bidang Pemerintahan.

Dari awal, Tarmizi sudah terlihat beda. Ia punya naluri pemimpin yang kuat. Dalam setiap kesempatan, ia selalu mengambil inisiatif. Dalam diskusi kelompok, ia yang memimpin. Dalam permainan gaple sekalipun, ia yang mengatur strategi.

Dan dalam baris-berbaris, jangan ditanya. Sejak jadi Kabag, lalu Sekda, dialah komandan pasukan para pejabat Kabupaten Bangka sewaktu berbaris di acara Agustusan. Baru ketika menjadi bupati ia menyerahkan tugas itu, karena tugasnya berubah: menerima penghormatan dari para pejabat Kabupaten Bangka di panggung kehormatan, bukan lagi memimpin barisan.

Banyak yang berduka atas kepergiannya. Wajar. Ia bukan tipe pemimpin yang hanya mengurus administrasi dan tanda tangan berkas. Ia turun ke lapangan. Ia tahu urusan agama, sosial, olahraga, hingga kesenian. Ia hadir, mendengar, menyelesaikan.