Pemimpin yang dibutuhkan adalah otaknya, konsepnya, kebijakannya yang merakyat, tindakan dari konsep yang nyata, networking yang kuat, singeritas yang kokoh, serta siap tidak populis dalam mengambil keputusan demi jangka panjang kemakmuran rakyat.

Membangun dari Kampong
Seorang Kepala Daerah digaji dan difasilitasi segala kebutuhannya ketika menjabat. Tentunya sang kepala daerah harus melakukan kerja yang tidak mungkin dilakukan oleh orang lain.

Beri sambutan, pidato sana sini, nyambangi kampung-kampung sekedar kumpul-kumpul dengan masyarakat, ngangkut sampah, pergi beri bantuan sesaat, dan hal yang remeh temeh sangat bisa dilakukan orang lain.

Kepala daerah itu kerjanya berat, sehingga ia harus digaji dan difasilitasi negara (duit rakyat). Kalau sekadar pergi beri bantuan ke masjid, musalla, gereja, nyambangi masyarakat buat ngumpul-ngumpul, cukuplah kepala dinas atau wakil kepala daerah. Seorang kepala daerah harus kuat networking di pemerintah pusat bahkan ke kedutaan.

Baca Juga  Sarjana Menganggur, Gelar dan Ijazah Tak Bisa Lagi Jadi Senjata

Bagaimana mendapatkan dana dari pusat turun ke daerah, bagaimana melobi BUMN, bagaimana mencari investor, bagaimana mengangkat seni budaya daerah bisa tampil di kancah internasional sehingga perlu melobi kedutaan-kedutaan yang ada. Itulah gunanya kepala daerah yang benar-benar punya isi kepala.

Sebagai sebuah kabupaten, tentu desa-desa adalah wilayah terluas dimiliki. Pastinya ikon keberhasilan pembangunan sebuah kabupaten dilihat dari bagaimana pembangunan dan kemajuan desa-desa di wilayahnya.

Kemakmuran masyarakat desa adalah tolak ukur kemakmuran sebuah Kabupaten. Kepala Daerah Kabupaten Bangka nantinya harus bisa melihat potensi setiap desa, mengembangkannya untuk jangka panjang bukan sekadar meramaikan sesaat.

Ada wilayah pesisir, apa pembangunan jangka panjang agar rakyat meraih kemakmuran, siapa investornya, bagaimana peran masyarakatnya dalam investasi itu, pun demikian dengan wilayah wilayah desa daratan.

Bantuan-bantuan pertanian seperti bibit tanaman dan bibit hewan ternak harus tepat sasaran dan ada pertanggungjawabannya. Tidak bisa hanya sekadar memberi bantuan ini itu sekadar serimonial belaka. Misal, jika ada bantuan bibit jeruk, maka Kepala Daerah harus melihat jeli, Desa mana yang punya lahan dan berpotensi, lantas bertanggungjawab atas semuanya.

Baca Juga  Raja Ampat di Persimpangan Jalan: Antara Konservasi dan Eksploitasi

Jangan sampai pembagian bibit-bibit tanamana kemana-mana yang akhir tak jelas keberlanjutannya. Dari sini konsep one village one product (satu desa satu produk).

Kepala daerah tak perlu sering-sering nyambangi desa, hanya karena pengen ngumpul dengan masyarakat, tapi wajib sering bahkan terjadwal misal 2 minggu sekali atau sebulan selaki coffe morning dengan kepala desa, minta laporan kemajuan desa, produk desa, persoalan desa dan sebagai.

Desa yang dianggap berhasil, maka wajib diberikan penghargaan baik kepada desa maupun aparatur pemerintahan desa-nya. Sedangkan desa yang tak berkembang, harus ada kebijakan selanjutnya. Camat harus benar-benar difungsikan, ini sosok pejabat yang harus wira-wiri keliling desa.

Wakil kepala daerah harus mampu menekan camat agar wilayah kepemimpinannya memiliki karakter masing-masing. Sehingga 8 Kecamatan di Kabupaten Bangka memiliki karakter pembangunan yang berbeda. Perlu sentuhan tegas dan kecerdasan serta kreativitas semua lini, terutama kepala daerah yang harus punya isi kepala.

Baca Juga  Kemerdekaan Progresif

Lalu…… ah, masih banyak lagi yang perlu “dipucak” di Kabupaten Bangka. Tapi siapa yang mucak? Mari kita periksa isi kepala mereka yang sudah pasang baliho bergambar kepala sebab kepengen menjadi kepala daerah di Kabupaten Bangka.

Salam Isi Kepala!

===
AHMADI SOFYAN, populer dengan nama Atok Kulop. Telah menulis lebih dari 80-an buku dan 1.000 artikel di berbagai media cetak maupun online. Banyak menghabiskan waktunya di pondok kebun tepi sungai di tengah kesunyian belantara Desa Kemuja.