Oleh: Herlian, S.Pd.Gr

Selama bulan Ramadan seorang muslim berlomba-lomba dalam memperkuat ibadah. Dan bulan Ramadan juga menjadi salah satu momentum untuk melakukan kegiatan ibadah dengan tekun dan fokus.

Dengan meningkatkan frekuensi ibadah kita seperti puasa, salat, membaca Al-Qur’an dan bersedekah ataupun ibadah lainnya seperti berbuat baik kepada sesama muslim. Momentum semangat seperti ini tidak hanya di bulan Ramadan tapi sampai akhir hayat.

Para ulama-ulama terdahulu sebelum memasuki bulan Ramadan, mereka sudah mempersiapkan diri sebelum bertemu bulan Ramadan dengan berpuasa di bulan Syakban dan kegiatan-kegiatan seperti kajian ilmu mereka istirahatkan dulu. Karena apa, karena dengan kemulian Ramadan yang di dalamnya memiliki keutamaan dan keberkahan.

Ramadan ini menjadi sebuah latihan atau penggemblengan jasmani dan rohani kita sebagai umat Islam untuk menjadikannya pribadi yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Baca Juga  Masjid Penuh, Hati Penuhkah?

Namun jadi pertanyaannya bagaimana pasca Ramadan? Apakah masih semangat melakukan ibadah dan apakah kita bisa menjaga kuantitas dan kualitas ibadah kita?

Ketika kita tekun dan istiqomah menjaga “api Ramadan” kita, insyaallah dipermudahkan Allah SWT. “Api Ramadan” adalah semangat dan motivasi kita selama bulan Ramadan untuk melakukan ibadah, berbuat baik dan meningkatkan kualitas hidup kita.

Namun, setelah bulan Ramadan berlalu banyak dari kita mulai hilang semangat dan motivasi tersebut.

Dengan melihat perjalanan kita selama bulan Ramadan itu menjadi hal yang paling penting untuk menjaga semangat dan motivasi kita beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ḥasyr :18)

Dalam mempertahankan semangat dan motivasi dan menjaga kualitas dan kuantitas ibadah kita setelah Ramadan kita perlu upaya serius dengan melakukan 3 M yaitu Muhasabah, Mujahadah, Muraqabah.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 19): Bertumbuh di Ruang Sempit

Cara pertama adalah Muhasabah merupakan kita selalu introspeksi diri selama proses perjalanan ibadah di bulan Ramadan.

Bagaimana kita melakukan muhasabah diri kita, muhasabah itu dengan banyak melakukan evaluasi kepada diri kita dengan membuat pertanyaan untuk diri kita sendiri seperti apa yang kita lakukan selama perjalanan dan apakah niat kita sudah benar selama Ramadan?

Tentunya dengan melakukan pertanyaan seperti ini kita bisa mengevaluasi ibadah kita selama bulan Ramadan. Dengan pertanyaan ini menjadi motivasi untuk memperbaiki diri kita yang akan berdampak pada kuantitas dan kualitas ibadah pasca Ramadan. Dengan pentingnya bermuhasabah ini Rasulullah Saw bersabda yaitu

“Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.’ (HR Tirmidzi).

Selanjutnya, Mujahadah ialah bersungguh- sungguh dalam berjuang untuk memperhatikan kegiatan positif ibadah bulan Ramadhan. Dengan memasuki bulan Syawal kita harus tancapkan dan menerapkan kebiasaan positif selama Ramadan.

Baca Juga  Jaga Hati, Pikiran, dan Lisan

Perjuangan ini tentunya akan banyak menghadapi tantangan, baik dari lingkungan sekitar ataupun dari diri kita sendiri. Oleh karena itu kita harus berniat dan tekad yang kuat dan benar agar hambatan dan tantangan yang bisa mengendurkan semangat ibadah kita akan bisa kita kalahkan.

Allah SWT memberikan motivasi dna semangat bagi orang-orang bersungguh- sungguh yang artinya