Jika Semua Bulan Menjadi Bulan Ramadan
Oleh: Fermansyah, S. Kom
Secara umum sudah diketahui bahwa kalender dalam satu tahun terdiri atas 12 bulan 365 hari. Dari salah satu bulan itu terdapatlah salah satu bulan yang sangat istimewa dari semua bulan.
Pada bulan tersebut terdapatlah malam yang disebutkan nilainya lebih baik dari malam seribu bulan.
Ya, malam itu adalah malam Lailatul Qadar. Malam yang hanya terdapat pada bulan yang agung, yaitu bulan Ramadan.
Banyak orang berlomba-lomba memperbaiki diri, bertaubat, banyak beribadah dan bersedekah pada bulan Ramadan. Karena Ramadan merupakan bulan yang diberkahi Allah SWT. Diampuni semua dosa yang telah lalu dan dilipatgandakannya pahala atas seluruh amal kebaikkannya.
Ramadan menjadi bulan yang selalu dinanti-nanti dan dirindukan oleh setiap muslim. Karena keberkahannya tidak hanya dapat dirasakan oleh umat muslim saja tetapi juga oleh umat non-muslim yang juga antusias dalam menantikan waktu “war” takjil di sore hari.
Amalan di bulan Ramadan juga berbeda dari bulan sebelumnya atau setelahnya. Di bulan Ramadhan, puasa setiap hari, salat sunah diperbanyak, tilawah dikencengin, sedekah diseringin dan masih banyak lagi ibadah-ibadah lain yang dilakukan.
Pertanyaannya, bisakah kita tetap konsisten, tetap istiqamah menjalankan amalan di bulan Ramadan pada bulan-bulan yang lain? Kenapa ruh bulan Ramadan biasanya mengendor setelah Ramadan berlalu?
Jawabannya adalah karena terkadang menjalankan Ramadan dengan niat yang belum lurus dan masih penuh dengan hawa nafsu. Sehingga mengurangi keberkahan Ramadan. Allah berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
