Perintah Allah, Antara Ketaatan atau Pemahaman
Perintah Allah, Antara Ketaatan atau Pemahaman
Oleh: Refi Farianto, S.M — Pengajar di SDIT Alam CAHAYA
Sebagai bagian dari kehidupan, sebuah perintah tentu sering kita lakukan karena itu bagian dari sebuah aturan baik itu aturan yang mengikat maupun aturan yang tidak mengikat. Artinya, diri kita mempunyai kebebasan untuk mengambil suatu tindakan atas perintah yang ada. Jika ditinjau dari sisi Al-Qur’an, sebuah perintah dari Allah SWT.
Tentunya sebagai seorang muslim harus melaksanakan apa yang menjadi perintah yang tertulis dalam Al-Qur’an karena sebagai sosok muslim pastinya mempertimbangkan konsekuensi jika melanggar perintah yang tertulis dalam Al-Qur’an. Akan tetapi manusia diberi kebebasan dalam memilih dan merespons suatu perintah.
Perintah yang jelas tertulis dalam Al-Qur’an sebenarnya akan dilaksanakan atau tidak tergantung kondisi keimanan manusia itu sendiri, artinya entah ia melaksanakan karena ketaatan kepada Allah SWT. atau ia melaksanakan karena pemahaman atas konsekuensi di baliknya atau bahkan ia mengabaikan karena kebodohan dalam kondisi yang terjadi pada dirinya.
Coba kita tinjau pada kisah dan kondisi Nabi Nuh a.s. Sebuah kisah keteguhan jiwa seorang manusia pilihan Allah yang taat akan sebuah perintah walaupun tidak memahami perintah yang diberikan kepadanya. Allah SWT berfirman dalam Qur’an surah Hud ayat 37 yang artinya “dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang lalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan”. Kondisi wilayah yang ditempati oleh Nabi Nuh a.s dan kaumnya itu merupakan tanah yang cukup tandus bahkan sangat sulit untuk menemukan air.
