Perintah Allah, Antara Ketaatan atau Pemahaman
Namun perintah Allah kepada Nabi Nuh itu disuruh untuk membuat sebuah kapal yang besar. Secara pemikiran manusia, untuk apa kapal itu dibuat di wilayah yang air sendiri sangat sulit ditemui, tapi itu adalah perintah yang diberikan kepada manusia seperti sosok Nabi Nuh yang lebih mengedepankan ketaatan dibanding pemahaman alhasil Allah perintahkan langit dan bumi untuk mencurahkan air sehingga menenggelamkan seluruh kaum nabi Nuh yang tidak beriman kepada Allah.
Kita tinjau lagi kisah Nabi Ibrahim a.s yang kita kenal kisahnya tentang perintah untuk menyembelih putranya Ismail, padahal penantian panjang Nabi Ibrahim untuk mendapatkan keturunan terjawab ketika hadirnya sosok Ismail, tetapi dalam mimpi Nabi Ibrahim a.s Allah perintahkan ia untuk menyembelih Ismail dan luar biasanya karena ketaatan kepada Allah, Nabi Ibrahim memenuhi perintah tersebut dengan hati yang mantap. Alhasil itu semua hanya ujian dari Allah SWT. dan akhirnya kejadian penyembelihan itu Allah gantikan yang semulanya Ismail digantikan dengan seekor domba.
Dua kisah dari sosok manusia pilihan Allah tersebut merupakan respons sebuah perintah yang dihadapkan kepada diri mereka. Perintah yang sampai pada diri mereka dilaksanakan dengan landasan ketaatan bukan pemahaman. Ketika logika sebuah pikiran yang bermain, pastinya merespons sebuah perintah akan dilandasi dengan pemahaman, saat pikiran tidak memahami tujuan dari perintah, pastinya respons dari tindakan lebih cenderung ingkar akan sebuah perintah.
Jika Nabi Nuh a.s merespons perintah berdasarkan landasan pemahaman, maka ia tidak akan membuat sebuah kapal di tengah kondisi wilayah tandus yang ia tempati, begitu juga dengan Nabi Ibrahim a.s tidak akan memenuhi perintah Allah untuk menyembelih Ismail sang putra yang ia sayangi ketika ia mengedepankan pemahaman dari pada ketaatan kepada Allah SWT.
Ketaatan merupakan sebuah puncak dari pengabdian seorang manusia. Ia akan mengesampingkan ego, nafsu, serta logika dalam diri seorang untuk memprioritaskan tindakan yang diambil dalam setiap kehidupan. Ketaatan-lah yang akan menjadi sumber ketenangan hidup di kala kondisi terburuk sedang dialami oleh pribadi manusia. Segala hidup yang dilandasi dengan ketaatan, pastinya akan bermuara pada kebahagiaan sejati baik di dunia maupun di akhirat.
