Mencari Sandal-Sandal yang Hilang
Padahal Rasulllullah Saw telah bersabda : “Wahai manusia, telah tiba bulan yang agung lagi mulia. Bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah telah menjadikan puasanya wajib dan salat malamnya sebagai amal sunnah. Barangsiapa melakukan satu ibadah sunnah pada bulan ini, maka pahalanya seperti menunaikan satu kewajiban di bulan lainnya. Dan barangsiapa menunaikan satu ibadah wajib pada bulan ini, maka pahalanya seperti menunaikan tujuh puluh kewajiban di bulan lainnya. Ini adalah bulan kesabaran. Pahala kesabaran adalah surga. Juga bulan kepedulian, bulan saat rezeki orang mukmin ditambah. Barang siapa memberi makanan berbuka untuk orang yang berpuasa pada bulan ini, maka dosa-dosanya akan diampuni, terbebas dari api neraka, dan memperoleh pahala seperti pahala orang yang ia beri makanan tadi tanpa mengurangi pahala orang itu sedikitpun.” (HR Ibnu Khuzaimah).
Ternyata tak seluruh orang sanggup untuk istiqomah. Mengejar pahala Ramadan yang berlipat. Banyak yang mulai berguguran. Hilang satu demi satu. Tak kelihatan lagi batang hidungnya. Kian hari kian banyak sandal-sandal yang hilang.
Tak nampak di barisan sandal yang berserakan di tangga masjid. Para pemiliknya mulai malas melangkahkan kaki ke masjid. Subuh yang semarak kembali nampak normal seperti biasa. Yang hadir pun nampak wajah-wajah lama yang banyak didominasi jemaah tua.
Bahkan banyak yang sudah sepuh. Salat Isya dan tarawih yang biasanya riuh suara anak-anak perlahan menyisakan para orang tua dan sedikit anak muda.
Di Ramadan yang masih tersisa ini, mari kita cari sandal-sandal yang hilang itu. Ajak kembali untuk tetap hadir di tangga masjid dan kembali mengejar kebaikan Ramadan.
Amalan ibadah itu tak harus menggebu-gebu di awal. Namun yang lebih penting adalah konsistensi. Pastikan sandal kita dan sandal keluarga kita tetap hadir di tangga masjid. Jangan biarkan hilang seperti yang lain.
Penulis merupakan Analis Bina Kehidupan Agama pada Biro Kesra Setda Provinsi Bangka Belitung.
