Rasa Malu, Mahkota Para Muslimah
Rasa malu tidak hanya diterapkan dalam bersosialisasi saja. Rasa malu wajib ada pada wanita untuk menjaga keindahannya. Allah memerintahkan wanita saliha untuk menjaga dan menutup auratnya sesuai dengan firman-Nya pada QS Al Ahzab ayat 59 dan Al-Mu’minun ayat 5 -6.
Sebagai seorang wanita muslim pasti sudah paham batasan-batasan aurat yang terlihat. Tidak hanya menggunakan jilbab untuk menutup kepala saja, aurat yang terlihat ketika memakai baju ketat juga harus ditutup.
Alangkah sedihnya, ketika seorang muslimah berpakaian yang ketat, memakai wewangian, dan berbicara dengan suara yang dibuat-buat untuk sengaja mengundang para lelaki memandangnya.
Padahal Rasulullah Saw sudah memperingatkan dalam hadits “Wanita itu aurat, jika ia keluar dari rumahnya maka setan akan mengikutinya, dan tidaklah ia lebih dekat kepada Allah (ketika salat) melainkan di dalam rumahnya”. HR At Thabrani. Salah satu akhlak yang dapat menjaga seorang wanita menjaga auratnya adalah rasa malu.
Sebagai seorang wanita muslim yang berkarir, kita memerlukan tameng yang kuat agar terus terjaga dan tetap berada pada koridor Islam. Seorang wanita tidak perlu unjuk diri di tengah-tengah ramainya laki-laki yang memandang.
Tidak perlu melembut-lembutkan suara untuk mendapatkan perhatian dari laki-laki yang bukan mahramnya. Allah telah menetapkan fitrah wanita dan laki-laki dengan perbedaan yang jauh. Tidak hanya fisik, melainkan akal dan tingkah laku.
Dalam QS Al-baqarah ayat 228 Allah berfirman yang artinya, “dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang sepatutnya.” Allah telah menetapkan hak dan kewajiban wanita sesuai fitrahnya.
Sehingga ketika dia menyadari fitrahnya, maka dia akan paham bahwasanya rasa malu itu pun menjadi hak baginya. Setiap wanita terlebih seorang muslimah, berhak menyandang rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.
Islam menjaga seorang wanita muslim dengan hidayah dan ilmu. Sebagai seorang wanita muslim kita hanya perlu menjaga rasa malu sebagai akhlak dan iman.
Peliharalah rasa malu sebagaimana dia sangat berharga dibanding dengan mahkota berlian sekalipun. Jadilah wanita berkelas dan berilmu yang bermahkotakan malu.
Penulis merupakan Pengajar di TKIT CAHAYA, Bangka Selatan.
