Fenomena Gengsi Selama Idulfitri: Antara Syukur dan Konsumtif
Selanjutnya di urutan kedua merupakan produk makanan dan minuman. Makanan dan minuman menjadi suguhan wajib untuk menjamu tamu ketika berkunjung dan silaturahmi dilakukan.
Tak hanya itu, di urutan selanjutnya adalah alas kaki yang masih mendukung konsumen untuk berpenampilan menarik pada Idulfitri.
Tidak lupa juga mengenai hadiah atau parsel. Pada saat ini, sebutannya terkenal dengan nama hampers. Konsumen rela mengeluarkan pengeluaran berlebih dalam mempersiapkan hampers tersebut dan dibagikan ke beberapa saudara, teman, atau koleganya.
Hal ini merupakan sebuah hal yang sangat normal bagi konsumen yang menjadi sisi antusiasnya pada momen Idulfitri. Berbelanja selama Idulfitri merupakan suatu aktivitas yang disukai oleh konsumen pada umumnya.
Terlebih momen ini seringkali memberikan penawaran yang terbaik untuk konsumen seperti promo, diskon, bonus dan lain sebagainya. Sehingga sangat menarik bagi konsumen untuk tidak melewatkannya.
Menyadari bahwa perilaku gengsi sudah ramah terdengar di telinga masyarakat khususnya sering terjadi selama Idulfitri. Tujuannya adalah sebagai pembentukan identitas dan keberadaan diri seorang konsumen tersebut di tengah masyarakat.
Berpakaian trendi, menggunakan barang-barang yang menarik perhatian orang lain menjadi sebuah visualisasi dari hal tersebut. Pun menjadi sebuah perilaku yang tidak didasarkan kebutuhan utama konsumen saja tetapi hanya karena terdapat sebuah kebanggaan diri untuk terlihat lebih berkesan dan prestise.
Melihat fenomena pembelian konsumen tersebut, terdapat contoh nyata seperti tren memberikan hampers kepada saudara, teman, atau kolega sebelum maupun sesudah Idulfitri.
Oleh karena itu, penting untuk kembali ke makna sebenarnya dari Idulfitri dan tidak terjebak dalam fenomena gengsi yang berlebihan. Mengutamakan kesederhanaan dan kebersamaan dalam merayakan Idulfitri dapat membantu mengurangi konsumsi berlebihan dan perbandingan sosial yang tidak sehat.
Dengan demikian, kita dapat merayakan Idulfitri dengan lebih sederhana, lebih bersahaja, dan lebih berkesan. Kita dapat fokus pada makna sebenarnya dari Idulfitri, yaitu sebagai momentum untuk merefleksikan diri, meminta maaf, dan memperkuat hubungan dengan keluarga dan masyarakat.
Penulis merupakan Guru Mts Plus Bahrul Ulum/ Anggota BKPRMI Kabupaten Bangka
