Penulis: Hendraone Habang

Prolog: Bayang-Bayang Suara Bumi

Di sudut kota Jogjakarta, terdapat kantor sederhana berlantai dua dengan dinding penuh mural bumi yang retak. Tulisan “Suara Bumi” terpampang di atas pintu, mengingatkan pada visi awal organisasi non-pemerintah (ORNOP) ini: menjadi jembatan antara kepedulian lingkungan dan suara masyarakat yang terpinggirkan. Sepuluh tahun lalu, Suara Bumi lahir dari sekelompok mahasiswa idealis yang menolak tambang ilegal di lereng Merapi. Kini, mereka dikenal sebagai salah satu ORNOP terkemuka di Indonesia. Namun, di balik mural yang mulai pudar, retakan lain sedang merambat—bukan di dinding, tapi di kepercayaan publik.

Bagian 1: Panggung Pertama

Bayu Aditya, direktur Suara Bumi, berdiri di atas panggung konferensi tingkat nasional. Kamera televisi mengarah padanya saat ia menyampaikan pidato tentang “Penyelamatan Hutan Tropis”. Matanya berbinar, suaranya menggema dramatis, dan telapak tangan berkeringat menggenggam naskah yang penuh istilah teknis: sustainability, ekosistem, keadilan iklim. Para hadirin berdecak kagum. Seorang Pejabat Negara Bidang lingkungan hidup bahkan berbisik pada asistennya, “Inilah wajah gerakan lingkungan masa kini!”

Baca Juga  Bayangan Rimba

Di sudut ruangan, Rani, koordinator lapangan Suara Bumi, menggigit bibir. Ia ingat rapat internal seminggu lalu. “Proyek pemulihan mangrove di pesisir Jawa terancam stop karena dana dialihkan untuk… ini?” tanyanya sambil menunjuk anggaran pembuatan video kampanye Bayu yang glamor. Bayu hanya tersenyum: “Kita butuh eksposur, Ran. Publik tak akan peduli jika kita tak ada di layar!”

Esoknya, headline media online ramai: “Suara Bumi: Garda Depan Lingkungan yang Membumi!”. Warganet di Twitter/X membagikan klip pidato Bayu dengan hashtag SuaraBumiInspirasi. Seorang influencer lingkungan menulis: “Bayu Aditya = Captain Planet versi Indonesia!”. Tapi di kolom komentar, seorang nelayan di pesisir utara Jawa berkomentar: “Mereka janji bantu kami perbaiki tambak, tapi setelah foto-foto, hilang lagi.” Komentar itu tenggelam dalam lautan pujian.

Bagian 2: Topeng dan Tarian

Baca Juga  Anak Bawang

Kantor Suara Bumi kini lebih mirip studio konten. Dinding yang dulu dipenuhi peta konservasi, sekarang dihiasi grafik engagement media sosial. Tim digital marketing sibuk mengedit video Bayu yang sedang menanam pohon dengan kemeja putih bersih—dibuat sepuluh take hingga sudut kamera pas. “Mas Bayu, tolong ekspresi lebih khawatir. Ini kan tentang deforestasi,” pinta editor.

Sementara itu, di lapangan:

Rani dan timnya terjebak hujan deras di Kalimantan. Mereka kehilangan kontak dengan desa dampingan karena jaringan internet terbatas. “Dana komunikasi dipakai buat sewa satelit webinar kemarin,” keluh seorang relawan. Di kantor pusat, Bayu justru asyik diskusi dengan produser acara talkshow terkenal. “Kita bisa bikin episode khusus tentang krisis air, Mas Bayu jadi host tamu!”

Malam itu, Rani mengirim surel panjang ke dewan pengurus:

“Apa artinya retorika ‘keadilan iklim’ jika kita abai pada nelayan yang kehilangan mata pencaharian? Apa gunanya trending di Twitter jika desa-desa dampingan tak lagi percaya kita?”

Baca Juga  Ku Sempurnakan Doa

Surel dibalas singkat oleh ketua dewan: “Prioritas kita adalah menjaga reputasi. Diskusi internal saja.”

Bagian 3: Retakan di Balik Layar

Viralnya video Bayu berdebat dengan CEO perusahaan sawit di televisi memicu perpecahan. Warganet terbelah :

  • DukungBayu: “Akhirnya ada yang berani lawan korporasi serakah!”
  • BayuBual: “Dia cuma cari popularitas! Mana bukti tindakan nyata?”

Yang tak terlihat: rahasia di balik debat itu. Produser acara mengirim draft pertanyaan sehari sebelumnya. “Ini hanya untuk dramatisasi, Pak Bayu. Rating acara kita perlu konflik,” kata asisten produser. Bayu setuju—dengan syarat nama Suara Bumi disebut tiga kali.

Bulan berikutnya, investigasi jurnalis lepas menemukan fakta mencengangkan : proyek energi terbarukan Suara Bumi di Flores ternyata mangkrak. Lahan pembangkit listrik tenaga surya jadi tempat merumput kambing. Warga lokal marah: “Mereka pasang panel surya, foto-foto, lalu pergi. Sekarang panelnya karatan!”