Postingan Instagram Suara Bumi tentang “Karya Nyata di Flores” mendapat ribuan like. Tapi di kolom komentar yang tersaring ketat, hanya emoji hati dan pujian.

Bagian 4 : Jatuhnya Topeng

Skandal meledak ketika mantan bendahara Suara Bumi membocorkan laporan keuangan ke media. Ternyata, 60% dana donor dialokasikan untuk:

  • Biaya tampil di televisi
  • Pembuatan konten viral
  • Gaya hidup “ramah lingkungan” staf elite: mobil listrik, kantor ber-AC 24 jam, dan workshop di hotel berbintang.

Warganet murka. Hashtag SuaraBumiBisnis berkembang cepat. Meme foto Bayu dengan filter “penyelamat lingkungan” diedit jadi iklan sabun cuci. Seorang youtuber membuat video dokumenter berjudul “Dari Aktivis Jadi Selebritas: Kematian ORNOP Idealisme”.

Di kantor Suara Bumi, Bayu berteriak pada tim humas: “Bersihkan ini! Bayar buzzer untuk counter hashtag!” Tapi kali ini, buzzer pun menolak. “Mas, isu ini terlalu panas. Netizen sekarang pada pakai mode investigasi,” jawab admin sebuah forum.

Baca Juga  Perempuan dan Pilihan Sunyi

Rani menggelar pertemuan darurat dengan relawan lapangan. Di ruang gudang yang lembap, 30 orang—mahasiswa, ibu rumah tangga, mantan buruh migran—berkumpul. “Kita harus pisahkan diri dari drama itu,” kata Rani. “Mari buktikan kita masih bisa bekerja tanpa panggung.”

Bagian 5: Rekonstruksi

Suara Bumi pecah. Bayu dan tim humas membentuk yayasan baru : Earth Voice International, berbasis di Jakarta dengan konsep “environmentaltainment“—campuran lingkungan dan hiburan. Mereka kolab dengan musisi ternama buat konser bertema iklim, tiketnya Rp 2 juta per orang.

Rani dan tim lapangan tetap memakai nama Suara Bumi, tapi dengan tambahan kata “Gerakan Akar Rumput”. Tanpa dana megah, mereka kembali ke metode kuno:

  • Diskusi di balai desa
  • Pelatihan praktis daur ulang sampah
  • Mendokumentasikan keluhan warga via podcast sederhana.
Baca Juga  Kepingan Puzzle

Seorang nenek di pesisir Jawa memberi mereka julukan baru: “Laron—datang saat gelap, bekerja dalam diam.”

Epilog: Luka yang Bernyanyi

Dua tahun kemudian, sebuah tweet pendek menjadi viral:

“Tadi ketemu anak muda bawa kaos ‘Suara Bumi Gerakan Akar Rumput’. Mereka bantu nenek-nenek buat kompos dari sampah pasar. No microphone, no stage. Just real work. Salut! NyataTanpaRetorika”

Di gedung mewah Jakarta, Bayu sedang mempersiapkan TED Talk bertajuk “The Art of Environmental Storytelling“. Layar laptopnya terbuka di draft artikel: “Mengapa Retorika Tetap Penting di Era Disrupsi?”

Sementara di lereng Merapi, Rani duduk di antara warga. Tanpa kamera, ia bertanya pada seorang petani: “Apa yang sebenarnya Bapak butuhkan?” Jawabannya sederhana : “Air bersih, Bu. Bukan kata-kata.”

Baca Juga  3 Film Dengan Unsur Puitis yang Bisa Bikin Luluh

Angin malam berbisik di sela bambu: dalam diam, kepercayaan mungkin bisa tumbuh kembali—tapi butuh lebih dari sekadar panggung untuk menyiraminya.

Catatan Penulis:

Cerita ini menggambarkan pertarungan antara pencitraan dan kerja nyata dalam organisasi non-pemerintah. Prinsip kritis konstruktif tercermin dari upaya Rani membangun solusi tanpa menyerang frontal, sementara realistis terlihat dari gambaran kompleksitas pendanaan dan tekanan menjaga reputasi. Retorika bukan musuh—tapi ketika menjadi tujuan, ia menggerus esensi perubahan sosial.