Kaban Limpai
Karya: Yoelchaidir
Malam itu di ruang keluarga masih berkumpul orang tua pengantin beserta kerabat dekat yang menginap di rumah orang tua mempelai pengantin.
Mereka baru saja melaksanakan pesta pernikahan anak gadis nya dengan seorang pemuda.
Akad nikahnya di laksanakan pagi hari hingga berakhir acara pesta sampai dengan malam hari.
Pembicaraan mereka seputar hadiah dan makanan yang tak cukup untuk pesta yang barusan berlangsung.
Hadiah berupa uang yang diselipkan dalam amplop kebanyakan hanya lembaran daun kering.
Makanan yang semestinyanya cukup untuk memenuhi kebutuhan para tamu, jadi tak bersisa.
Bahkan banyak para tamu undangan yang datang tidak sama sekali mencicipi makanan yang tersedia.
Makanan itu sudah habis sebelum para tamu undangan sempat menyantap hidangan.
Adalah Kaban Limpai yang sengaja diundang oleh seseorang yang merasa punya dendam pribadi atau rasa dengki kepada orang tua pengantin sehingga berapa pun jumlah hidangan yang tersedia tidak akan cukup memenuhi kebutuhan para tamu undangan.
Hal tersebut bukanlah hal baru bagi sebagian masyarakat salah satu daerah yang ada di Bangka Selatan.
Kaban yang berarti segerombolan dan Limpai adalah para mahluk halus penghuni salah satu hutan di perbukitan.
