AI di Ruang Pembelajaran: Kawan atau Ancaman?
Oleh: Muhammad Bachtiyar
Bayangkan sejenak, sebuah kelas di mana siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga didampingi asisten virtual yang bisa menjelaskan ulang materi, memberikan latihan soal, bahkan menjawab pertanyaan aneh-aneh khas anak-anak dengan sabar. Kini, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sedang membuka jalan ke sana.
AI kini mulai hadir dalam ruang-ruang kelas. Menyebar seluruh penjuru dan pelosok. Tak hanya di kota besar atau sekolah internasional, tapi juga menyelusup dengan mudahnya ke sekolah-sekolah negeri, Swasta, pesantren, madrasah, bahkan pembelajaran daring yang kini marak dan kian mudah ditemukan. Tapi seperti semua inovasi, ia datang denga duai sisi yang seiring seperjalanan. Membawa harapan sekaligus kekhawatiran.
Penggunaan AI dalam pendidikan hadir dalam beragam bentuk. Hadir dalam wujud aplikasi yang dapat membantu guru mengelola kelas, menganalisis perkembangan belajar siswa, hingga menyediakan materi ajar yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu. Aplikasi seperti ChatGPT, Khan Academy, hingga Asisten Google, telah dimanfaatkan oleh siswa dan guru untuk memperkaya proses belajar.
“AI adalah peluang besar untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih personal dan inklusif,” ujar Nadiem Makarim kala ia masih menjabat menjadi Menteri di periode lalu. Dalam beberapa kesempatan, Nadim pun acap kali menekankan bahwa teknologi bisa menjadi katalisator transformasi pendidikan, bukan ancaman.
Kehadiran AI Di sisi guru, mampu mengurangi beban administratif—menilai tugas, menyusun jadwal, hingga merancang materi adaptif. Sedangkan bagi siswa, AI dapat menjadi teman belajar yang sabar dan bisa diakses kapan saja.
Namun, apakah kehadiran AI benar-benar murni membawa kebaikan?
Tidak semua pihak sepakat bahwa AI akan menyelesaikan masalah pendidikan. Beberapa ahli justru mengingatkan bahaya jika teknologi digunakan tanpa pemahaman kritis. Misalnya apa yang disampaikan oleh Prof. Zulkifli, M.Ed., guru besar pendidikan Universitas Indonesia, dalam sebuah diskusi mengingatkan agar semua pihak harus berhati-hati. AI memang dapat mendorong efisiensi, tapi jangan sampai penggunaannya mengabaikan dimensi afektif dan sosial dalam belajar.
AI memang bisa menjawab beragam pertanyaan dengan berbagai level kesulitan, tapi ia tidak bisa merasakan kegelisahan siswa. Tidak bisa menangkap isyarat nonverbal ketika seorang anak merasa tertinggal. Itulah ruang yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi.
Masalah lainnya adalah soal ketimpangan. Tidak semua sekolah punya akses ke infrastruktur digital. Belum semua guru siap menghadapi perubahan teknologi. Jika tak hati-hati, AI dapat memperlebar jurang pendidikan yang terjadi antara kota dan desa. Bahkan, UNESCO dalam laporan tahun 2023 mengingatkan: “AI harus berpusat pada manusia. Teknologi harus mendukung pendidikan yang berkeadilan, bukan justru menggantikannya.”
AI Bukan Guru, Tapi Mitra
Alih-alih bersaing, guru dan AI bisa saling melengkapi. Guru tetap menjadi pengarah nilai, pembimbing karakter, dan pemberi makna. Sementara AI bisa menjadi alat bantu untuk eksplorasi dan personalisasi. Bayangkan: guru mengajak siswa untuk “menantang AI”—misalnya, meminta ChatGPT menjelaskan materi, lalu bersama-sama mengecek kebenarannya. Ini bukan hanya membuat pembelajaran aktif, tapi juga melatih siswa berpikir kritis.
Di kelas, siswa dan guru dapat menggunakan AI untuk beragam aktivitas: Menciptakan cerita bersama (AI bantu ide, siswa lanjutkan), mendesain kuis atau permainan belajar (guru tetap memfilter isinya) atau Mendiskusikan topik sains atau sejarah dari berbagai sudut pandang.
