Salah satu contoh penggunaan AI yang mulai dijajaki di Indonesia adalah di SMAN 1 Magelang, yang dalam proyek uji coba menggunakan platform pembelajaran adaptif berbasis AI. Siswa mengakses materi lewat aplikasi yang mampu menyesuaikan tingkat kesulitan soal berdasarkan hasil sebelumnya. Guru tetap mengawasi, tetapi siswa punya jalur belajar yang lebih personal.

Di sisi lain, Pesantren Nurul Fikri Lembang juga mulai memperkenalkan AI dalam bentuk chatbot sederhana untuk menjawab pertanyaan umum santri tentang jadwal, kitab yang dipelajari, hingga materi pelajaran umum. Inisiatif ini menunjukkan bahwa penggunaan AI bisa disesuaikan bahkan dengan konteks lembaga berbasis keislaman.

Tentunya, kian hari kian banyak penerapan AI dalam pembelajaran di berbagai lembaga. Baik yang memang sudah diimplementasikan sebagai kebijakan lembaga, atau yang diakukan atas dasar inisiatif guru. Ini bukti bahwa AI bisa hadir dalam beragam ekosistem, tidak harus modern dan urban semata.

Baca Juga  Google Kini Tanamkan Artificial Intelligence di Google Translate

Yuval Noah Harari, dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century, memberi catatan serius tentang penggunaan AI: “Ketika AI bisa menulis lebih baik dari manusia, kita perlu memastikan siapa yang mengontrolnya dan untuk tujuan apa.” Peringatan Harari ini menjadi pengingat bahwa di balik teknologi yang canggih, ada isu etika, kekuasaan, dan tanggung jawab yang tak boleh diabaikan.

Refleksi: Pendidikan adalah Jalan Menuju Manusia

Pada akhirnya, teknologi sejatinya adalah alat. AI bisa membantu membuat pembelajaran lebih efisien, tapi bukan berarti menjadikannya lebih manusiawi. Di sinilah letak tanggung jawab pendidik: menjaga agar proses belajar tetap punya ruh.

Dalam Islam, pendidikan tidak difahami sekadar sebuah proses transfer ilmu atau pengetahuan semata. Di dalam prosesnya tak bisa dipisahkan pembentukan akhlak dan adab. Rasulullah ﷺ adalah sosok pendidik terbaik, bukan karena kecanggihan teknologi, tapi karena keteladanan dan kelembutan hatinya.

Baca Juga  Simbiotik Pesisir: Urgensi Konservasi Lamun terhadap Populasi Dugong

Kita dituntuk untuk dapat memanfaatkan kehadiran AI ini dalam upaya memperkuat nilai memanusiakan proses belajar. Jika ini yang kita tempuh, maka kita sedang menuju masa depan pendidikan yang bukan hanya cerdas, tapi juga bijaksana.

Kehadiran AI di ruang kelas bisa menjadi kawan, jika kita membangun relasi dengannya secara bijak. Ia bisa menjadi ancaman, jika kita menutup mata dari dampaknya yang kompleks. Sebagaimana kata Prof. Fasli Jalal, mantan Wakil Menteri Pendidikan:
“Pendidikan itu membentuk manusia, bukan hanya mencerdaskan. Teknologi dapat membantu, tapi manusia tetap intinya.”

Maka, kehadiran AI dalam ruang kelas dan pembelajaran bukanlah untuk menggantikan guru, tapi justru didorong untuk menguatkan peran guru. Bukan untuk mengasingkan siswa, tapi mendekatkan mereka pada proses belajar yang bermakna.

Baca Juga  Melindungi Reptil Endemik Indonesia: Antara Ketakutan dan Konservasi

Karena sejatinya, pendidikan adalah tentang hati, bukan hanya otak. Dan AI, secerdas apapun, belum punya hati.

Penulis merupakan Sekretaris Yayasan Cahaya Selatan

*Disclaimer: Tulisan ini disusun dengan bantuan salah satu AI yaitu Chat GPT