Tapi di sudut lain, ada Ibu dengan doa,
Ada Ayah dengan lelah yang tak pernah padam.
Mereka menggenggam harapan: “Jadilah guru, Nak,”
Sebagaimana yang kami dambakan.

Aku terdiam, hati ini retak,
Jiwaku terbelah diam-diam.
Ingin kuteriak, “Ini hidupku! Ini mimpiku!”
Tapi suaraku tercekat oleh tanggung jawab yang bisu.

Aku hanya Putri Simba … yang dicintai terlalu dalam,
Hingga tak bisa jadi diri sendiri.
Jika aku pergi ke mimpiku, apakah mereka akan merasa ditinggalkan?
Jika aku tinggal di jalan mereka, apakah aku akan merasa kehilangan?

Simpang Rimba, 19 April 2025

Baca Juga  Aku untuk Aku