Dengan bantuan yang begitu sedikit, mustahil bagi Radeen Alie untuk menghidupi dirinya sendiri, keluarganya, dan para pengikutnya yang berjumlah sekitar dua ratus (200) orang. Ketika saya mengemukakan kekhawatiran ini kepada komandan, saya sangat terkejut mengetahui bahwa ia masih mencurigai Radeen Alie sebagai seorang pemberontak. Gagasan bahwa seseorang yang berada di bawah kekuasaan dan perlindungan pemerintah masih bisa melakukan pemberontakan sangat mengganggu saya, dan saya menyadari bahwa tindakan segera diperlukan. Oleh karena itu, saya memanggil Radeen Alie, bersama para kepala keluarganya dan pengikutnya, untuk mengadakan pertemuan.

Setelah berkonsultasi dengan komandan, Panembahan, dan Mayor pribumi Tompel, kami mencapai kesepakatan bahwa Radeen Alie, bersama keluarga dan para pengikutnya, akan menetap di Pulau Lepar, sebuah pulau yang terletak di antara Toboali di Bangka dan Belitung. Di sana, ia akan berjaga terhadap para perompak yang berkumpul dari Lingga, Trengganu, dan tempat lainnya, serta menghidupi dirinya dengan menangkap ikan, mengumpulkan teripang, dan memanen agar-agar serta melalui pertanian dan cara-cara jujur lainnya.

Untuk memenuhi kebutuhannya dan sebagai imbalan atas jasanya dalam melawan para perompak, saya memberinya seratus gulden, satu koyang (atau 30 pikol) beras, dan setengah koyang garam per bulan. Selain itu, saya mengeluarkan sertifikat yang memberikan izin kepadanya untuk menetap di Pulau Lepar dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.

Pada saat yang sama, saya memberi wewenang kepada komandan untuk memberikan uang muka selama dua bulan kepada Radeen Alie dan terus membayar serta menyuplai kebutuhannya setiap bulan sesuai dengan ketentuan yang telah saya tetapkan, hingga ada perintah lebih lanjut.

Rincian lebih lanjut mengenai negosiasi ini dengan Radeen Alie telah saya jelaskan dalam surat saya tertanggal 6 Agustus kepada Kolonel dan Residen Bangka, yang saya rujuk di sini karena telah dilampirkan sebagai bagian dari dokumen ini. Namun, terkait surat tersebut, saya perlu mencatat bahwa karena keberangkatan saya yang mendadak ke Palembang, saya hanya memiliki beberapa jam untuk menulisnya, dan bahkan saat itu saya masih terlibat dalam percakapan dengan para pejabat yang datang menemui saya. Selain itu, saya menerima salinan surat yang kurang baik, sehingga saya memohon maaf atas ketergesa-gesaan dalam penulisannya.”

Baca Juga  Negeri Rimba Keratung

Dari surat Van Sevenhoven kepada Residen Bangka, semakin jelas bahwa selama negosiasi ini, Radeen Ali sendiri meminta cara hidup yang jujur, karena ia tidak mungkin menghidupi keluarga besarnya dan para pengikutnya dengan bantuan terbatas yang diberikan oleh komandan.

Van Sevenhoven merujuknya kepada Mayor Tompel untuk membahas apa yang paling sesuai untuk masa depannya. Sebagai hasilnya, Radeen Ali meminta izin untuk menetap di Poeloe Lepar, yang pada saat itu hanya dihuni oleh beberapa Orang Laut dan menawarkan sumber daya yang cukup untuk kehidupannya.

Van Sevenhoven sangat menyadari bahwa keputusan ini berpotensi memungkinkan Radeen Ali melanjutkan kembali profesinya yang lama, tetapi solusi harus ditemukan. Awalnya, ia mempertimbangkan untuk membawa Radeen Ali ke Muntok, tetapi Radeen Ali menolak, ia menghindarinya dengan berpura-pura sakit.

Baca Juga  Dijaga Sejak Kecil untuk Misi Besar

Selain itu, tidaklah pantas untuk memenjarakan seseorang yang secara sukarela telah menempatkan dirinya di bawah perlindungan pemerintah. Berdasarkan pertimbangan ini, Van Sevenhoven memutuskan untuk mengabulkan permintaan tersebut.

Van Sevenhoven mencatat bahwa Radeen Ali kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya dan akhirnya meyakinkannya bahwa jika dia pernah menyalahgunakan kepercayaan yang kini diberikan kepadanya, pemerintah tidak akan beristirahat sampai dia, Radeen Ali, bersama seluruh keturunan dan pengikutnya, dimusnahkan hingga orang terakhir.

Radeen Ali ditemani oleh putra Tompel, yang memegang pangkat kapten pribumi, untuk mengawasi tindakannya. Sejauh mana Radeen Ali memenuhi harapan Van Sevenhoven tidak diketahui oleh saya. Setelah itu, namanya tidak muncul lagi dalam catatan yang dikumpulkan oleh Tuan Cornets de Groot mengenai sejarah pemberontakan/pembajakan.

Kebijakan Kolonial terhadap Raden Ali

Baca Juga  Kirab Pemilu 2024 Tiba di Pangkalpinang, Bakal Keliling di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Keputusan untuk mengizinkan Radeen Ali menetap di Pulau Lepar bukan tanpa pertimbangan. Pejabat Belanda menyadari potensi ancaman yang masih ada, namun mereka juga memahami bahwa menangani pemimpin lokal dengan pendekatan represif dapat menimbulkan perlawanan yang lebih besar.

Oleh karena itu, kebijakan yang diterapkan lebih bersifat kompromi dengan tetap mengawasi Radeen Ali melalui perwakilan resmi, seperti putra dari Mayor Tompel yang ditugaskan untuk mengawasi kegiatannya.

Evaluasi Peran Raden Ali

Sumber catatan kolonial tidak secara eksplisit menyebutkan apakah Radeen Ali benar-benar menjalankan janjinya atau apakah ia tetap mempertahankan pengaruhnya di dunia perlawanan secara diam-diam. Namun, namanya tidak lagi muncul dalam catatan mengenai sejarah pemberontakan di wilayah tersebut, yang dapat mengindikasikan apakah ia berhasil menyesuaikan diri dengan kebijakan kolonial atau kehilangan relevansinya dalam dinamika kekuasaan lokal?

Keberadaannya mencerminkan kompleksitas kebijakan kolonial dalam menangani tokoh-tokoh lokal yang memiliki kekuatan signifikan. Melalui pendekatan kompromi, pemerintah kolonial berusaha mengendalikan ancaman potensial tanpa harus melakukan tindakan militer yang lebih luas. Namun, tanpa sumber yang lebih luas dari perspektif pribumi, analisis mengenai motif dan dampak dari keputusan Raden Ali tetap menjadi subjek kajian lebih lanjut dalam historiografi kolonial Indonesia.

Pertanyaan penting, Apakah Raden Ali dan keluarganya wafat di Pulau Lepar?