Oleh: Dwikki Ogi Dhaswara

Raden Ali adalah seorang tokoh yang muncul dalam catatan kolonial Belanda, terutama dalam konteks kebijakan administrasi dan keamanan di wilayah Bangka dan sekitarnya pada abad ke-19.

Namanya dikaitkan dengan aktivitas perlawanan, termasuk dugaan keterlibatannya dalam aksi perlawanan di Toboali dan perairan sekitar Pulau Lepar. Keberadaan dan perannya menjadi bagian dari dinamika hubungan antara rakyat lokal dan pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Setelah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dan pasukan gabungan yang dipimpin oleh Raden Keling dan Raden Ali di kawasan Pulau Tinggi, Kepulauan Lepar, yang berlangsung selama kurang lebih 10 (sepuluh) menit, Raden Keling gugur dalam pertempuran tersebut bersama empat orang kerabat dekatnya serta sejumlah prajurit setia yang menunjukkan keberanian luar biasa.

Di pihak lawan, beberapa perwira Belanda dilaporkan mengalami luka-luka. Pertempuran ini dijelaskan secara rinci oleh A. Meis, Kapitein-Adjudant bij den Generaal Majoor, Kommandant van het Nederlandsche Oost-Indische Leger, dalam Verhaal Palembangschen Oorlog van 1819-1821, pada halaman 149.

Kendati Raden Keling gugur dalam pertempuran yang terjadi di Benteng Pulau Tinggi pada 10 Oktober 1820, semangat perlawanan terhadap kekuatan kolonial Belanda tidak serta-merta padam.

Baca Juga  Bawaslu Babel Lakukan Pengawasan Terhadap Penyerahan Syarat Dukungan Bakal Calon Anggota DPD RI

Kepemimpinan perjuangan kemudian dilanjutkan oleh putera Raden Keling, yakni Raden Ali. Ia berhasil meloloskan diri ke wilayah Nyireh dan kemudian bergabung dengan Batin Ganing, seorang pemimpin masyarakat setempat.

Namun, keberadaan dan aktivitas Raden Ali pasca pertempuran tersebut tidak banyak tercatat dalam sumber-sumber sejarah. Informasi mengenai dirinya baru kembali ditemukan dalam Algemeen Verslag der Residentie Banka Over het Jaar 1850, yang terdapat dalam Bundel Bangka Nomor 41.

Dalam laporan tersebut, secara singkat disebutkan mengenai proses penangkapan Raden Ali oleh pihak Belanda. Dinyatakan bahwa:

Istri Demang Kurau, yang sebelumnya merupakan istri dari penguasa Pulau Lepar, Raden Ali, dikenal memiliki keberanian pribadi yang tinggi. Ia telah menunjukkan jasa besar dalam serangan terhadap Toboali, selama Perang Palembang, serta dalam proses penyerahan Raden Ali kepada pemerintah, dengan menyediakan sebuah perahu… Pengaruhnya sangat terasa dalam kondisi ini.”

Berdasarkan laporan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penangkapan Raden Ali oleh pemerintah kolonial Belanda diduga dilakukan dengan bantuan dari mantan istrinya yang sebelumnya telah bercerai darinya dan kemudian menikah dengan Demang Kurau.

Baca Juga  Dibesarkan Kakek dan Paman, Sebuah Kolaborasi Pengasuhan

Peran aktifnya dalam upaya penyerahan Raden Ali menunjukkan kompleksitas sosial dan politik dalam dinamika perlawanan lokal terhadap kekuasaan kolonial pada masa itu.

Dalam kajian sejarah lokal, terdapat analisis serta anggapan yang cukup lama berkembang bahwa setelah penangkapannya oleh pihak kolonial Belanda pada tahun 1850, Raden Ali diasingkan ke wilayah yang jauh, sebagaimana halnya beberapa tokoh perlawanan lainnya seperti Batin Tikal dan Depati Amir.

Pandangan ini berakar dari minimnya dokumentasi mengenai keberadaan Raden Ali pasca penangkapan, serta kecenderungan pemerintah kolonial untuk mengasingkan tokoh-tokoh perlawanan ke daerah yang sulit dijangkau guna meredam potensi pemberontakan lanjutan.

Namun, anggapan tersebut kemudian terbantahkan dengan ditemukannya catatan sejarah dalam dokumen berjudul Reglement van het Koninklijk Instituut voor de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, yang disahkan dalam Algemeene Vergadering tanggal 27 Juli 1865. Dalam laporan yang disusun oleh J. I. van Sevenhoven, berjudul Rapport over het Eiland Billiton, disebutkan bahwa Raden Ali kembali ditemukan keberadaannya, yang mengindikasikan bahwa ia tidak diasingkan secara permanen, melainkan dilepaskan setelah penangkapannya pada tahun 1850.

Baca Juga  Malam Likur

Penemuan dokumen ini memberikan dimensi baru dalam memahami nasib Raden Ali serta strategi kolonial Belanda terhadap pemimpin lokal yang pernah melakukan perlawanan.

Fakta bahwa Raden Ali tidak diasingkan sebagaimana sebelumnya diduga, menunjukkan kemungkinan adanya pendekatan politik yang lebih fleksibel atau adanya kompromi tertentu antara pihak kolonial dan tokoh lokal.

Dalam dokumen tersebut, menurut laporan pemerintah tahun 1863-1864 tentang belum diterbitkannya jumlah penduduk asli Pulau Belitung, Van Sevenhoven juga menjelaskan, “bahwa pemberontak terkenal, Radeen Alie, ditemukan di muara Sungai Tjoeroetjoep. Ia telah menyerah kepada pemerintah Belanda, namun komandan sipil dan militer tidak yakin bagaimana harus menanganinya. Akibatnya, ia hanya diberi bantuan berupa persediaan makanan senilai, jika saya ingat dengan benar, dua ratus gulden dalam bentuk beras dan garam untuk satu tahun penuh.