Di tengah generasi yang sibuk dengan gawai, konten viral, dan tren sesaat, krisis literasi menjadi semakin nyata. Banyak anak muda lebih fasih menghafal lirik lagu luar negeri daripada memahami isi buku pelajaran. Ini adalah bentuk keterpurukan yang harus disadari bersama.

Kartini tidak sekadar memperjuangkan hak belajar bagi perempuan, tapi memperjuangkan hak berpikir kritis bagi semua. Jika saat ini masih ada anak Indonesia yang tak bisa membaca, maka kita semua telah gagal menjaga semangatnya.

Langkah solutif harus segera diambil. Literasi harus ditanamkan sejak dini, bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah dan komunitas. Guru perlu dibekali pendekatan yang inklusif, orang tua harus menjadi mitra aktif pendidikan, dan negara harus hadir bukan hanya lewat kebijakan, tapi juga aksi nyata.

Baca Juga  Bagaimana Lingkaran Informasi Dapat Mempersempit Wawasan dan Mengancam Diskursus Publik

“Habis gelap terbitlah terang.”

Namun jika terang itu hanya untuk sebagian orang, maka gelap tetap merajalela di sudut-sudut negeri ini.

Penulis merupakan Dosen Jurusan Sastra Inggris Universitas Bangka Belitung.