Oleh: Saroh Mulyawati – Mahasiswi Universitas Bangka Belitung

Era digital telah mentransformasi kondisi kehidupan di dunia perkuliahan. Dimana gawai dan koneksi internet telah menjadi bagian hidup mahasiswa.

Jadi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan fondasi bagi berbagai aktivitas, termasuk interaksi sosial. Semua Mahasiswa kini terhubung melalui berbagai plaftform digital, mulai dari grup obrolan kelas hingga media sosial yang melintasi batas geografis untuk berkomunikasi, belajar dan berinteraksi sosial.

Namun di tengah kemudahan interaksi virtual ini apakah teknologi lebih berperan sebagai jembatan yang menghubungkan dan memperkaya interaksi sosial di kalangan mahasiswa, atau justru menjadi jurang yang memisahkan dan mengurangi kualitas hubungan, terutama jika kita mempertimbngkan perbedaan antara mahasiswa introvert dan ekstrovert?

Baca Juga  Platform Pesan Milik WhatsApp Luncurkan Pintasan Baru di IOS

Realitanya, teknologi telah merasuki hampir seluruh aspek kehidupan mahasiswa, menyediakan beragam platform daring dengan fitur interaksi yang bervariasi. Disisi lain mahasiswa memiliki karakteristik kepribadian yang berbeda untuk mereka mendekati dan memanfaatkan interaksi sosial.

Mahasiswa introvert cenderung mendapatkan energi dari kesendirian, lebih memilih interaksi dengan kelompok kecil, mereka lebih nyaman dengan suasana yang tidak ramai. Sebaliknya, mahasiswa ekstrovert cenderung aktif mencari keterlibatan sosial, mendapat energi dari interaksi nyata dengan banyak orang dan menyukai suasana aktivitas sosial yang ramai.

Isu yang perlu dieksplorasi adalah bagaimana penggunaan teknologi dalam interaksi daring mempengaruhi kualiatas dan pola interaksi sosial di antara mahasiswa dengan kecenderungan introvert dan ektrofert.

Baca Juga  10 Ide Bisnis Online Yang Bisa Kamu Kerjakan Dari Rumah

Apakah teknologi memfasilitasi pembentukan koneksi sosial yang bermakna dan mendukung kesejahteraan psikologis kedua kelompok  mahasiswa ini, atau justru mengarah pada fragmentasi sosial dan penurunan kemampuan berinteraksi tatap muka yang efektif?

Lebih jauh lagi, apakah dampak teknologi terasa berbeda secara signifikan antara mahasiswa ekstrovert dan introvert dalam konteks perkembangan sosial mereka di lingkungan kampus?

Untuk menganalisis isu ini, beberapa prinsip dan teori relevan dapat diterapkan. Teori kebutuhan afiliasi, menekankan dorongan dasar manusia untuk terhubung dengan orang lain, yang mana teknologi dapat mempengaruhi pemenuhanya bagi individu dengan preferensi sosial yang berbeda.

Teori komunikasi mediasi menyoroti bagaimana karkteristik medium teknologi mempengaruhi kualitas interaksi. Selain itu, konsep social comparison theory dapat menjelaskan bagaimana paparan terus-menerus terhadap highlight reel kehidupan orang lain di media sosial dapat mempengaruhi presepsi diri dan kepuasan sosial mahasiswa.

Baca Juga  Nokia Kembangkan Produk Terbaru Nokia G42 Hadir Suasana Nostalgia

Analisis mendalam menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi “jurang” dalam beberapa aspek. Bagi mahasiswa introvert, kemudahan dan kenyamanan berinteraksi melalui teks atau media sosial yang tidak memerlukan respons langsung mungkin justru memperkuat kecenderungan menghindari interaksi tatap muka yang dianggap lebih melelahkan dan menguras energi.