Teknologi dan Interaksi Sosial: Jurang atau Jembatan bagi Mahasiswa Introvert dan Ekstrovert?
Hal ini berpotensi menghambat perkembangan keterampilan sosial yang penting untuk navigasi dunia nyata. Contohnya, seorang mahasiswa introvert lebih nyaman berpartisipasi dalam forus diskusi daring dengan waktu berpikir yang cukup, namun kesulitan dalam percakapan spontan atau presentasi di depan kelas.
Di sisi lain bagi mahasiswa ekstrovert, keterbukaan platform daring untuk terhubung dengan banyak orang sekaligus menjurus pada interaksi yang dangkal dan berfokus pada kuantitas bukan kualitas. Keinginan untuk terus-menerus terhubung dan terlibat dalam berbagai percakapan daring dapat mengurangi waktu dan energi yang dialokasikan untuk membangun hubungan yang lebih mendalam dan bermakna di dunia nyata.
Namun, penting untuk mengakui bahwa teknologi juga berpotensi menjadi “jembatan” yang menghubungkan dan memfasilitasi interaksi sosial dengan cara yang inovatif. Bagi mahasiswa introvert, platform daring dapat menyediakan ruang yang lebih aman dan terkontrol untuk memulai interaksi, berbagi pemikiran secara tertulis sebelum berbicara, dan membangun hubungan secara bertahap berdasarkan minat yang sama.
Bagi mahasiswa ektrovert teknologi memberikan kemampuan untuk memperluas jaringan sosial melampaui batasan geografis dan waktu, memfasilitasi pembentukan komunitas dengan minat yang serupa, dan mengorganisir kegiatan sosial dengan lebih efisien.
Fleksibilitas dan kemudahan akses yang ditawarkan teknologi untuk mahasiswa berinteraksi kapan saja dan dimana saja dan memberikan rasa memiliki dan dukungan sosial yang penting bagi kedua tipe kepribadian.
Sebagai kesimpulan, dampak teknologi pada interaksi sosial mahasiswa introvert dan ekstrovert adalah dialektis. Ia memiliki potensi untuk menjadi “jurang” yang memisahkan dan mengurangi kualitas interaksi jika digunakan secara tidak bijak atau berlebihan, memperdalam kecenderungan untuk menghindari tatap muka atau menghasilkan hubungan yang superfisial.
Namun teknologi juga berfungsi sebagai “jembatan” yang menghubungkan dan memfasilitasi interaksi dengan cara yang baru dan bermanfaat, mengakomodasi preferensi komunikasi yang berbeda memperluas peluang untuk terhubung.
Kunci untuk memaksimalkan potensi positif dan meminimalkan dampak negatif terletak pada pengembangan literasi digital yang komprehensif di kalangan mahasiswa.
Institusi pendidikan, dosen, organisasi kemahasiswaan dan para mahasiswa itu sendiri perlu bekerja sama untuk mempromosikan penggunaan teknologi yang seimbang dan bertanggung jawab, mendorong kegiatan tatap muka yang inklusif dan bermakna, serta menanamkan kesadaran akan pentingnya membangun hubungan sosial yang auntetik di dunia nyata.
Teknologi adalah alat yang netral. Dampaknya pada interaksi sosial mahasiswa tergantung bagaimana kita menggunakanya. Mari kita terus merefleksikan peran teknologi dalam kehidupan sosial kita dan berupaya memanfaatkannya sebagai alat memperkarya dan mempererat interaksi di kalangan mahasiswa, membangun jembatan pemahaman dan koneksi yang melampaui perbedaan kepribadian, tanpa membiarkan potensi jurang digital memisahkan kita dari esensi hubungan manusia yang sesungguhnya.
Penulis merupakan mahasiswi Bisnis Digita Universitas Bangka Belitung.
